Austin-Sparks.net

Salib Batu Sandungan

oleh T. Austin-Sparks

Pertama kali diterbitkan dalam majalah "A Witness and A Testimony" Jan-Feb 1932 Jilid 10-1. Judul asli: "The Offence of the Cross". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)

“Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi.” (Galatia 5:11).

Ini adalah suatu fakta yang sangat jelas nyata bahwa di mana pun Salib Tuhan Yesus Kristus dengan setia diberitakan dan disajikan – sementara membawa harapan dan kehidupan baru bagi orang banyak – hal ini hampir selalu menjadi penyebab masalah.

Ke mana pun Salib pergi, Salib selalu merangsang antagonisme. Seperti sebuah batu sandungan bagi orang Yahudi dan kekonyolan bagi orang Yunani pada hari-hari pertama, maka, sejak saat itu, hal ini tidak dapat diterima, bukan hanya oleh orang-orang dunia, tetapi juga oleh masyarakat beragama.

Kami tanpa ragu-ragu menegaskan bahwa hal ini lebih nyata hari ini daripada hari-hari sebelumnya, meskipun Salib jelas-jelas adalah simbol terpopuler di dunia. Hampir tidak ada kota umat Kristen di mana arsitektur, galeri seni, koleksi sastra, konservatori musik dan lembaga agama yang tidak menyatakan kepada dunia suatu penghormatan terhadap tanda sakral ini.

Bahkan hal ini telah dianggap perlu, dalam fase-fase tertentu perusahaan misionaris hari ini, untuk menghilangkan dari buku teks dan buku nyanyian, sebutan kata Salib agar jangan sampai hal tersebut menyinggung.

Sebagian besar khotbah dan ajaran dalam Gereja Kristen terbatas baik pada “Sejarah Kristus” yang menyajikan Kristus tanpa Salib-Nya, atau pemberian makna kematian-Nya yang telah dimodifikasi.

Namun, Kitab Suci pastinya perlu disingkirkan sebelum kita dapat singkirkan fakta bahwa Kitab Suci menyatu dalam semua bagian-nya untuk menyatakan bahwa Salib adalah cara Allah untuk keselamatan, cara Allah yang cukup dan memadai dan cara Allah satu-satunya.

Selanjutnya, tentunya sudah sangat jelas bahwa Salib telah terbukti sebagai sarana di mana telah Allah terapkan penuh kuasa penyelamatan-Nya yang perkasa. Hal ini dominan di hari-hari Perjanjian Baru. Pemulihan, atau penekanan kembali beberapa fase penting dan esensial dari Salib menimbulkan gerakan-gerakan seperti yang ditandai dengan nama Luther, Moody, Finney, Jonathan Edwards, Whitfield, Wesleys, Spurgeon, dan banyak manusia terhormat Allah lainnya.

Sekarang kita bertanya mengapa Salib selalu menjadi pembuat masalah dan sebuah batu sandungan? Dan mengapa hari ini Salib adalah penyebab banyak pergolakan bahkan di dalam banyak yang kelihatannya institusi evangelis kita, dan denominasi, keluarga Kristen, gereja-gereja lokal dan kehidupan individu orang Kristen?

Inilah yang akan kami usahakan untuk menjawab, tapi pertama-tama mari kita bedakan. Bukan kepahlawanan Salib atau estetika yang menyebabkan masalah.

Pengorbanan, penderitaan, pengabdian yang tidak egois, pelayanan yang tidak menonjolkan diri demi kebaikan orang lain, bertahan hukuman pengaturan diri terhadap arus jahat zaman ini, dll; ini adalah elemen romantik dan telah diringkus sebagai tema-tema yang menangkap dan memikat orang banyak.

Yang menyebabkan kejengkelan adalah makna yang lebih dalam yang Kitab Suci berikan kepada Salib, dan ini dapat dilihat dalam satu atau dua penerapan tertentu.

1. Salib menghakimi dunia.

Dalam Salib-Nya, Kristus menciptakan kesenjangan besar antara dunia lama dan dunia baru, kesenjangan yang tidak bisa dijembatani.

Dua sistem yang jelas berbeda, skala nilai, standar penghakiman, hukum-hukum, berlaku di dua sisi Salib, masing-masing sistem tidak hanya seluruhnya berbeda tetapi juga tidak dapat didamaikan dan selamanya bertentangan satu dengan yang lain.

Salib menuntut kekhasan mutlak dalam kepentingan, dan tujuan, hubungan dan sumber daya.

Salib menggambarkan perbedaan akhir antara yang diselamatkan dan yang belum diselamatkan, antara yang hidup dan yang mati.

Firman Allah dengan tegas menyatakan bahwa zaman ini adalah zaman jahat, dan bahwa “Seluruh dunia berada dalam yang si jahat,” dan bahwa cara-caranya, motif, tujuan, ide, imajinasi semuanya berlawanan dengan milik Allah dan bahwa zaman ini sama sekali tidak memiliki kemampuan baik untuk menerima wahyu pikiran Ilahi, bertumbuh ke dalam gambaran Ilahi, menikmati dan menghargai persekutuan nyata dengan Allah, atau dipercayakan dengan hak istimewa untuk bekerja-sama dengan Allah.

Semua inilah yang merupakan kesadaran, kapasitas, hubungan jiwa seorang yang baru lahir atau yang dilahirkan kembali. Vonis, penghukuman, dan tuntutan Salib inilah yang tidak dapat diterima oleh dan menjengkelkan bagi sejumlah besar yang mengaku sebagai orang Kristen. Terlebih lagi, kehadiran yang disebut “keduniawian” yang sangat banyak baik dalam kehidupan individu orang Kristen dan dalam Gereja, yang benar-benar menetralkan efektivitas mereka dalam menyadari tujuan esensial Salib.

2. Salib menghakimi daging.

Dengan itu Firman Allah menyatakan bahwa “manusia lama kita telah turut disalibkan.” “Satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia.” Kami telah mencoba membawa sebagian dari kehidupan ciptaan lama ke dalam ciptaan baru dan Allah tidak membiarkannya. Sejarah bangsa yang jatuh, sejauh mana Allah bersangkutan, telah diakhiri di Kalvari. Sejak saat itu, seluruh perhatian Allah ada pada ciptaan baru, tetapi baik kemampuan manusia kita maupun kelemahan kita, baik apa yang kita sebut sisi baik kita maupun sisi buruk kita, baik kebagusan kita dan kejelekan kita, semuanya sama termasuk dalam kematian itu. Selanjutnya, kita dipanggil untuk hidup tidak pada tingkat manusia, tapi pada tingkat ilahi. Secara manusiawi, kita tidak memiliki apapun yang dapat diterima Allah. Penyertaan beberapa unsur manusia, suka atau ketidak-sukaan, mode atau kemewahan, ambisi, kepentingan pribadi, yang selalu melumpuhkan pekerjaan rohani Allah yang nyata. Menganggap tidak hanya dosa-dosa kita, tetapi diri kita sendiri sebagai yang telah dibawa ke Salib oleh Kristus adalah satu-satunya cara dengan mana tujuan Allah dapat ditempa melalui kehidupan kita. Sungguh aneh, sementara kita sendiri yang menjadi kutukan keberadaan kita sendiri, kesulitan hidup kita sendiri, kita sangat lamban dalam menerima penyaliban kita dengan Kristus, dalam membiarkan Salib bekerja sampai kematian kita agar kehidupan Kristus dapat dinyatakan dalam kita. Disinilah terletak batu sandungan Salib, tidak hanya bagi orang-orang dunia biasa tetapi juga bagi orang Kristen.

3. Salib melemparkan iblis ke luar.

Di sini kita menyentuh, barangkali, penyebab terdalam batu sandungan, karena dunia dan daging hanyalah alat dan senjata dimana hirarki besar Iblis mempertahankan cengkeramnya dan keberadaannya sebagai kuatan kendali. Kristus berkata, saat Dia mendekati Salib, “Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar,” Paulus saat merefleksikan Salib berkata bahwa dengan Salib “Kristus telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.” Sebab itu, sangatlah wajar jika hirarki besar harus dengan segala cara dan sumber daya berusaha untuk membuat Salib tidak berlaku. Dengan “menjulurkan pemikiran pucat” yang akan mencairkan pesan Salib; dengan memasukan metode dunia, cara dunia, semangat dunia, semua hal ini akan menekan vitalitas rohani Gereja; dengan menghasut daging, diri dan Adam lama, akan menyebabkan perpecahan, ketegangan dan cerai-berai; atau dengan mempergunakan banyak unsur manusia dalam sisi artistik, estetika, heroik, kemanusiaan, dia akan menjadi buta akan kebutuhan untuk dilahirkan kembali. Reputasi, popularitas, kebesaran, standar kesuksesan dunia, semuanya bertentangan dengan roh Kristus, tetapi semua ini adalah mainan yang dipakai musuh untuk memikat dan memenuhi pikiran orang banyak, bahkan pelayan-pelayan Kristen. Oleh karena itu, jika Salib diberitakan dalam kemenangan penuh atas dan pembebasan dari dunia, daging dan Iblis, maka dapat diperkirakan bahwa kekuatan cerdas kejahatan, akan dengan segala cara apa pun berusaha untuk menghentikannya, dan akan membangkitkan setiap penyebab batu sandungan terhadap Salib.

Dalam kesimpulan, janganlah kita lupa bahwa kenikmatan hidup penuh Allah, pengalaman akan kemenangan, dan kerjasama eksekutif dengan Dia yang duduk di atas Tahta; dalam kesadaran pasti bahwa tujuan kekal-Nya adalah milik kita hanya sejauh di mana kita bersatu dengan arti penuh dan esensial dari Salib sebagaimana yang telah ditetapkan dalam firman Allah. “Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun … bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus.” “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.”


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.