Austin-Sparks.net

Kasih Karunia

oleh T. Austin-Sparks

Diedit dan disediakan oleh Golden Candlestick Trust. Judul asli: "Grace". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)

Bacaan: Efesus 1:2, 7; 2:5, 7, 8; 3:2, 7, 8; 4:7, 29; 6:24. Zakharia 4:7.

Saya pikir saudara akan terkesan dengan berapa kali kata kasih karunia itu terdapatkan dalam surat kepada Jemaat di Efesus. Saya harus mengakui bahwa saya sangat terkesan saat saya menyadari-nya, dan hal itu membawa ke hati saya sebuah makna yang sangat diberkati. Saya pikir semakin tinggi kita pergi dalam penyataan Ilahi, semakin samar bahaya-nya menjadi, dan saat kita datang pada sebuah perenungan tentang apa yang kita sebut sebagai kebenaran Efesus dan posisi Efesus, di sanalah kita menemui salah satu bahaya terbesar kita, bahaya rohani terbesar kita. Dan bahaya-nya di sana adalah untuk kehilangan, sampai batas tertentu, kesadaran bahwa segala sesuatu adalah dari kasih karunia. Dalam surat Efesus, kita tidak terlalu sibuk dengan masalah keselamatan. Ketika kita berada di Roma dan keselamatan sangat banyak-nya ada dalam pandangan, maka tentu saja masalah kasih karunia ada di hadapan kita di sepanjang waktu dan kasih karunia memiliki tempat yang besar dalam kesadaran kita. Dalam surat Efesus kita berurusan lebih banyak dengan posisi dan panggilan dan lebih banyak sisi aktif-nya dari kehidupan rohani kita sendiri, dan hanya di situlah bahwa kita masuk ke dalam wilayah bahaya dari membiarkan kasih karunia dalam bentuknya yang lebih intensif terlepas dari kesadaran kita. Itu memang adalah bahaya tertinggi kita saat kita maju ke dalam kehidupan yang lebih tinggi dan lebih dalam kepada apa Tuhan telah memanggil kita.

Jadi, kita dibawa kembali hampir dengan sebuah peringatan yang mengejutkan saat kita mengumpulkan belasan referensi-referensi tentang kasih karunia dalam enam pasal dari surat kepada Jemaat di Efesus ini. Dan ini adalah efek kumulatif-nya yang ingin saya hadapi, tidak mempelajari setiap kejadian dengan hubungannya yang unik, tapi hanya untuk mengingatkan hati kita akan kenyataan bahwa tidak peduli seberapa jauh kita dapat maju, mencapai ketinggian kehidupan rohani setinggi apa yang kita dapat naik, apa pun mungkin penghormatan yang diberikan kepada kita dan pelayanan yang kita dipanggil pada, kita tidak pernah sesekalipun dalam sedikit derajat pun berada di luar jangkauan kasih karunia atau di luar batas di mana semua adalah oleh karena kasih karunia.

Di sini, di dalam surat ini, seperti yang saudara ketahui, ada tiga hal yang paling utama yang kita hadapi. Yang pertama adalah identifikasi dengan Tuhan Yesus, yang kedua adalah penyataan, dan yang ketiga adalah panggilan. Kita dari awal diingatkan akan identifikasi kita dengan Tuhan Yesus. Bersatu dengan Dia dalam rupa kematian-Nya: “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” – sebuah tema yang kebanyakan dari kita telah sangat kenal. Tapi kita harus kembali ke masalah ini dari sudut pandang kasih karunia, dan menyadari bahwa identifikasi dengan Tuhan Yesus di dalam kematian-Nya adalah masalah kasih karunia. Saya tidak yakin bahwa kita telah menyadari hal itu dengan cukup. Kita telah lebih menganggapnya sebagai sesuatu yang ekstra yang kita miliki dengan cara pengabdian dan penyerahan diri, memberi diri kita kepada Tuhan secara lebih penuh dan lebih dalam daripada mungkin yang rata-rata; bahwa kita menerima semua makna dari salib untuk penyisihan secara menyeluruh manusia lama, dan sangat sering dengan posisi itu dan penerimaan itu adalah pemikiran (jika tidak didefinisikan secara jelas, ini ada di latar belakang pikiran kita) bahwa kita melakukan sesuatu yang ekstra, kita berjalan sedikit lebih jauh, dan untuk melakukan itu, tentu saja, berarti bahwa kita menempatkan diri kita di jalan kemurahan hati yang spesial dari Tuhan, bahwa kita mengambil posisi spesial yang harus diikuti, tentu saja, dengan berkah spesial.

Sekarang, mungkin saudara dapat mengikuti melampaui apa yang telah saya katakan dan melihat apa yang saya maksudkan, tapi saya ingin membawa hal itu kembali pada titik kasih karunia ini lagi. Kita sungguh mengenali, tentu saja, bahwa salib Tuhan Yesus adalah “TIDAK” Allah yang abadi. “TIDAK” yang hebat dan menyeluruh-seluruhnya yang keluar dari Allah. Sebuah bangsa, sebuah dunia, sebuah kemanusiaan yang jatuh, tidak lagi sesuai dengan rencana asli Allah, dan kepada seluruhnya Allah telah mengeluarkan “TIDAK” tanpa kompromi-Nya. “Mustahil” ditulis dari sisi Allah atas seluruh keadaan itu dan seluruh dunia itu sehingga jalan buntu dibuat dan tidak ada prospek apa pun dari Tuhan untuk menyadari maksud dan rancangan-Nya dalam bangsa itu, dalam keadaan itu, dan Kalvari adalah “TIDAK” yang hebat dan final terhadap segala sesuatu di dalam penciptaan sejak dosa Adam. Apa yang akan saudara lakukan dalam kebuntuan seperti itu, ketika saudara sampai pada kebuntuan seperti itu? Nah, di satu sisi, itu mengeja keputusasaan dan kesedihan, tapi Allah selalu memiliki cara untuk membuat lembah Akhor menjadi pintu harapan.

Lembah Akhor memang situasi yang putus asa: Akhan dengan semua sanak saudara dan keluarganya, semua barang dan harta bendanya, segala sesuatu yang berhubungan atau terkait dengannya dibawa keluar dan dihancurkan seluruhnya. Sebuah “TIDAK” dikeluarkan dari Allah: tidak satu bagian pun yang tersisa. Nabi berkata kepada kita bahwa Tuhan membuat lembah Akhor sebagai pintu pengharapan. Dan Kalvari hanyalah itu, oleh kasih karunia Allah, sebab kebangkitan Tuhan Yesus adalah “YA” Allah yang tegas dan menyeluruh-seluruhnya. Ada “TIDAK” di satu sisi, tapi ada “YA” di sisi lain, dan ke dalam “YA” itu kita dimasukkan melalui kematian dalam kebangkitan, dan Allah melanjutkan dengan rencana dan niat kekal-Nya melalui persatuan dalam kebangkitan dengan Tuhan Yesus. Dan identifikasi terbukti bukan sesuatu yang saudara dan saya terima secara terhormat, tapi sesuatu yang darinya kita tidak dapat melarikan diri, sebab apakah kita mau atau tidak, kita sungguh telah mati dalam Kristus dari sudut pandang Allah. Ini bukan sesuatu yang kita lakukan; ini telah terpenuhi. Kita tidak bisa keluar dari itu. Kita datang di bawah “TIDAK” Allah yang akhir dan tanpa kompromi. Semua yang tersisa untuk kita lakukan adalah dalam iman untuk menerimanya, tapi untuk melihat bahwa “YA” Allah terletak pada penerimaan kita, dan apa yang tampaknya seperti pintu yang tertutup rapat melalui iman adalah pintu yang terbuka dalam kasih karunia Allah. Dan identifikasi, dengan apa surat ini dimulai, didasarkan pada kasih karunia, seperti yang saudara perhatikan: telah mengampuni kita semua pelanggaran kita. Identifikasi dengan Tuhan Yesus adalah kasih karunia Allah dan bukan sesuatu yang kita lakukan dengan jasa spesial. Allah telah menemukan suatu jalan dalam kebangkitan Tuhan Yesus keluar dari jalan buntu, dari kebuntuan, dan membawa kita dari yang negatif ke yang positif, dari “TIDAK” ke “YA” yang perkasa, dan apa yang saya rasakan adalah bahwa saudara dan saya harus membuat lebih banyak dari “YA” Allah. Saya melihat pesan besar Alkitab dari awal sampai akhir adalah kebangkitan. Ini bukan kematian; ini adalah kebangkitan.

Sampai kita melihat itu, kita belum belajar rahasia pengharapan. Kita belum belajar rahasia Allah, sebab Allah telah keluar dari kekekalan bukan dengan sebuah “TIDAK”, tapi dengan sebuah “YA”, dan Allah telah mengejar “YA” –nya Dia melalui sejarah. “TIDAK”-Nya adalah untuk “YA”-Nya. Tampaknya begitu sering saat saudara membaca begitu banyak Firman bahwa semuanya adalah negatif, semuanya adalah “TIDAK” yang hebat, penundukkan, penolakan, tapi kita harus melihat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan “YA”-Nya. Ia sedang mengejar “YA”-Nya dan meskipun Kalvari dari satu sudut pandang tampaknya merupakan sebuah “TIDAK”, keputusasaan tanpa harapan, ini adalah jalan Allah menuju perwujudan “YA”-Nya. Dan Kalvari, sebab Kalvari memastikan penghapusan hal yang menciptakan kebuntuan bagi kita dan bagi Allah, menjadi pintu Kasih Karunia ke dalam “YA” kekal Allah. Dan nada-nya (pelajari lagi, ambillah dengan baru bersama saya) dari Kejadian sampai Wahyu adalah nada “YA” – tentang kebangkitan. Itulah pesan Firman Allah melalui seluruhnya, dan segala sesuatu yang tampaknya bertentangan, segala sesuatu yang tampaknya seperti kematian dan penyisihan adalah hanya (dan saudara akan menemukannya begitu setiap waktu) jalan Allah melalui sampai ke “YA”-Nya.

Sekarang, jika Tuhan berurusan dengan kita di sepanjang garis kematian untuk menyisihkan dan mengatakan “TIDAK” dan “TIDAK” dan “TIDAK”; jika Ia sedang menyaring, jika Ia sedang menghancurkan, jika Ia sedang mengosongkan, jika Ia sedang mencurahkan, jika tampaknya jalan-Nya adalah jalan untuk menolak sepanjang waktu dan membawa sampai ke tidak-adaan – ingatlah bahwa Allah sedang mengejar “YA”-Nya dan bukan “TIDAK”-Nya. Ini adalah dengan “YA”-Nya dalam pandangan, kemudian, untuk membuat jalan bagi “YA”-Nya yang kekal, dan “YA” Allah selalu dalam hal kebangkitan. Saudara melihat Tuhan Yesus di dalam kematian di bawah “TIDAK” Allah yang kuasa secara representatif, seperti bangsa di bawah kuasa Allah: “Tidak, itu tidak akan pernah, itu telah diselesaikan.” Tapi kemudian saudara memiliki reaksi dari Allah yang datang masuk mengenai hal itu, dan pernyataan yang kuat dan terus-menerus: “Allah membangkitkan Dia – Allah membangkitkan Dia.” Dan ketika Allah telah mengatakan “TIDAK”-Nya, Ia datang masuk dan berkata: “Ya, Aku tidak meninggalkannya di sana.”

Jika kita akan berjalan terus dengan Tuhan, kita mungkin datang ke tempat di mana dari satu sudut pandang, tampaknya seolah-olah “TIDAK” yang perkasa telah ditulis di sepanjang hidup kita, tapi Allah akan datang masuk dengan “YA”-Nya; Allah sedang mengejar “YA”-Nya. Berpeganglah pada “YA” Allah; jangan terlalu sibuk dengan “TIDAK”. Akui “TIDAK” itu adalah satu-satunya jalan menuju “YA” – cara lain untuk mengatakan bahwa kematian adalah jalan menuju hidup. Tapi nada itu adalah nada kebangkitan. Nada itu adalah nada “YA” Allah. Allah mencari sesuatu yang positif dan bukan untuk yang negatif. Jadi identifikasi adalah masalah kasih karunia Ilahi.

Kemudian di tempat selanjutnya dalam surat ini, saudara memiliki masalah tentang penyataan, sebab dalam surat ini, penyataan yang diberikan itu luar biasa, dan doa rasul untuk orang-orang kudus adalah doa yang luar biasa dalam masalah penyataan. Ia berdoa di sini agar mata hati mereka tercerahkan, supaya mereka bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu. Dan ada lebih banyak lagi yang didoakan di sini: agar mereka mengetahui betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya – dan sebagainya. Sekarang, penyataan adalah masalah kasih karunia sama seperti keselamatan. Penyataan bukanlah sesuatu yang saudara dan saya capai. Ini bukan sesuatu yang dimiliki oleh pemahaman dan kecerdasan yang superior yang adalah milik kita. Ini bukan sesuatu yang kita memperoleh. Penyataan secara murni adalah oleh karena kasih karunia Allah. Saya ingin lebih banyak lagi mengejar hal itu daripada yang dapat kita lakukan, tapi saya ingatkan saudara pada rasul itu sendiri. Saudara ingat apa yang ia katakan tentang penyataan yang datang kepadanya: “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Kasih karunia datang dengan penyataan-penyataan yang superior. Kedua hal itu selalu berjalan bersamaan.

Apa ketakutan yang ada di dalam Paulus, dan bolehkah kita katakan di dalam Tuhan tentang Paulus? Ini adalah bahwa dengan memiliki penyataan-penyataan yang luar biasa itu, ia mungkin secara sadar, atau tidak sadar, memberi kesan kepada orang lain untuk berpikir bahwa ini adalah kecerdasan superior di sisinya; bahwa ini adalah sesuatu yang ia telah peroleh, sesuatu yang telah datang kepadanya yang layak baginya, mungkin karena alasan pengorbanannya yang begitu besar – apa yang telah ia tinggalkan dan deritakan bagi Tuhan. Dan sekarang Tuhan membiarkan penderitaan untuk datang bersamaan dengan penyataan-penyataan untuk menunjukkan bahwa ini bukanlah manusia itu sama sekali. Ini bukanlah karena siapa orang itu. Ini adalah masalah kasih karunia Allah, dan rasul mengingatkan kita pada beberapa kesempatan bahwa apa yang ia miliki, ia tidak dapatkan dari kemampuannya sendiri atas dasar kecerdasan alami yang superior apa pun. Itu diberikan kepadanya oleh penyataan dari Roh. Ia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan untuk semuanya. Itu semua adalah oleh karena kasih karunia.

Sekarang, itu menempatkan kita semua pada satu tingkat, bukankah demikian? Ini berarti bahwa kasih karunia Allah dapat bekerja dengan cara seperti itu bagi kita semua jika kemampuan alami kita tidak masuk hitungan di sini, jika tidak ada pertanyaan apa pun sama sekali tentang apa kita itu secara alami tapi semuanya adalah masalah kasih karunia Allah; baiklah, kita semua bisa masuk ke dalam penyataan ini melalui kasih karunia. Tapi tentu saja, kita mulai menyangkal kasih karunia Allah segera kita memiliki sedikit pun kecurigaan akan kita yang menjadi guru, pakar, spesialis, mereka yang mengetahui sesuatu. Ini adalah penyangkalan dasar penyataan itu sendiri. Dan saya percaya bahwa itu menjelaskan mengapa banyak orang yang memulai oleh Tuhan yang memberikan mereka penyataan yang nyata dalam kasih karunia melalui Firman-Nya, telah selesai dengan hanya memiliki pengetahuan yang dingin dan mati. Apa yang pernah menjadi penyataan dan penuh dengan hidup, kesehatan, menolong orang lain, sekarang adalah ungkapan yang sama, kebenaran yang sama, ajaran yang sama, tapi sama matinya seperti apa pun bisa mati. Sekarang penyataan ini telah menjadi sekedar pengetahuan mental. Penyataan ini telah kehilangan semua hidupnya, segala pemberiannya. Mengapa? Sebab mereka memperdagangkannya; sebab mereka membiarkan penyataan itu untuk menjadikan mereka penguasa-penguasa, untuk membuat mereka menjadi sesuatu, dan tidak terus mengakui bahwa setiap bagian dari terang adalah kasih karunia Allah. Dan Tuhan akan selalu menjaga kita dalam posisi itu di mana kita harus berpegang teguh kepada-Nya untuk setiap-tiap bagian dari pengetahuan, kebenaran, penyataan yang datang kepada kita; sangat sering menjaga kita tepat sampai pada saat terakhir menempel pada Dia, berpegang kepada Dia, sehingga tidak ada hikmat pakar manusia yang berguna. Kita membutuhkan sesuatu yang hanya Tuhan dapat berikan melalui penyataan, dan Ia menjaga kita tetap dekat dengan diri-Nya sehingga ketika penyataan itu datang, kita akan berkata bahwa itu adalah kasih karunia dan kebaikan Tuhan, bukan sesuatu dari diri kita sendiri. Kasih karunia Allah dalam pelayanan, kasih karunia Allah dalam pengetahuan.

Dan kemudian secara singkat, sebuah kata terakhir tentang panggilan, sebab Efesus membawa kita ke dalam panggilan sorgawi kita, dan dalam hal panggilan, ini tetap merupakan kasih karunia. Panggilan memiliki dua aspek. Ada sisi aktif kita, yang aktif di bagian kita sendiri, dan kemudian ada sisi yang kita mungkin sebut yang memamerkan pada bagian Allah. Efesus membawa kedua hal ini ke dalam pandangan. Yang aktif di pihak kita. Pasal keenam menempatkan kita ke dalam panggilan sorgawi yang aktif kita di dalam Kristus. Tapi, apakah menurut saudara kita dapat memenuhi panggilan sorgawi kita, melakukan pekerjaan Tuhan, menjadi sesuatu yang efektif bagi Tuhan, oleh apa pun yang adalah diri kita atau yang kita miliki dalam diri kita sendiri? Kita dibawa ke posisi yang sangat tinggi di sini. Kita dibawa di pasal ini untuk berurusan dengan kuasa-kuasa yang tidak kalah dari pemerintah-pemerintah, dan penguasa-penguasa dan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, roh-roh jahat di udara. Itu adalah panggilan yang tinggi, itu adalah panggilan yang luar biasa, di mana kuasa rohani dan cerdas luar biasa yang memerintah dunia ini dalam keadaan berdosanya sedang ditangani secara langsung melalui panggilan rohani orang-orang kudus sebagaimana mereka ada dalam doa, dan dalam posisi yang mereka tempati oleh iman di dalam Tuhan, dilengkapi dengan seluruh perlengkapan senjata Allah; panggilan yang luar biasa, mendapatkan kembali dari kondisi dunia, manusia, daging dan darah.

Berapa banyak yang telah menyelinap ke sana ke dalam bahaya, ke dalam perangkap berpikir bahwa panggilan itu, pekerjaan itu, bisnis itu mewakili beberapa tempat unggul yang mereka tempati, sesuatu yang adalah dari mereka? Dan jadi mereka menggunakan bahasa, dan mereka memakai sopan santun, dan mereka mengangkat suara mereka sedemikian rupanya sehingga memberi kesan bahwa pekerjaan ini dilakukan dari sesuatu yang telah mereka capai sebagai suatu jabatan, sebagai suatu posisi. Tidak seperti itu sama sekali. Dan Tuhan sangat sering membiarkan orang-orang semacam itu untuk dipukul sampai babak belur oleh Iblis untuk menunjukkan kepada mereka bahwa semua ini adalah oleh karena kasih karunia; bukan suatu posisi yang diperoleh, bukan sesuatu yang kita miliki, bukan sesuatu yang bisa secara resmi digenapi, melainkan sesuatu yang didasarkan pada kasih karunia Allah. Sisi aktifnya adalah pada kasih karunia Allah dan tidak ada tempat apa pun bagi manusia, untuk daging, untuk manusia secara alami dalam ini.

Lalu ada sisi lain dari panggilan yang saya telah sebut pameran, sisi Allah, sebab surat ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah sedang melakukan sesuatu dari sisi-Nya di sepanjang garis kasih karunia, yang sama sekali terpisah dari aktivitas kita dan sangat terpisah dari pemahaman, kecerdasan, atau kesadaran kita. Ia membuat dikenal kasih karunia-Nya kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa. Mereka, kecerdasan rohani yang lebih tinggi dapat membaca kasih karunia Allah dalam hidup kita sebagaimana tidak ada orang lain yang dapat membaca kasih karunia Allah itu dan dipaksa untuk mengagumi kasih karunia Allah seperti yang ditunjukkan di dalam kita. Mereka tahu nilai kita. Mereka tahu harga kita. Kita mungkin memiliki kesombongan tentang diri kita sendiri, mungkin ada kebanggaan tentang kita, tetapi kecerdasan rohani yang lebih tinggi mengetahui kebenaran tentang kita, dan sering kali mereka harus tersenyum terhadap harga diri, kesombongan hati manusia ini ketika ada beberapa saran bahwa kita bisa menjadi sesuatu di dalam diri kita sendiri, dan mampu melakukan sesuatu. Oh, mereka tahu kuasa yang superior mereka atas kita yang terpisah dari perlindungan Allah; mereka tahu apa yang bisa mereka lakukan dengan kita jika Tuhan mengambil pagar-Nya dari kita. Mereka bisa tersenyum pada kita, ketika mereka melihat apa yang sekarang bisa mereka lihat dengan benar oleh karena kondisi jatuh kita, dengan benar dan adil menganggap kita tidak berharga, tidak terhitung untuk apa pun bahkan di mana mereka bersangkutan, bahkan roh-roh yang jatuh. Jika bukan karena Allah, hal ini akan merugikan kita, di mana mereka dapat dengan adil melihat ketidakberhargaan-nya kita, tapi mereka melihat Allah mengambil itu dan melalui sebuah pengalaman mengacaukan mereka, membawa mereka ke tempat di mana mereka harus menjawab kepada-Nya, di mana mereka tidak lagi memiliki kaki untuk berdiri di hadapan Tuhan, di mana seorang Ayub diangkat oleh Allah untuk menjawab tantangan penguasa dari penguasa-penguasa dari hierarki yang jatuh – dan ada sesuatu tentang kasih karunia Allah di dalam itu. Allah, mengambil apa yang tidak ada apa-apa-nya, apa yang tidak berarti, apa yang lemah, apa yang bodoh dan di sana menunjukkan kasih karunia-Nya.

Apa kasih karunia Allah jika ini bukanlah mengambil apa yang tidak berharga dan menunjukkan hikmat dan kuasa-Nya yang mulai melalui itu? Itu adalah kasih karunia Allah, dan kecerdasan yang lebih tinggi diinstruksikan dalam kasih karunia Allah melalui pengalaman yang datang kepada kita di dalam kedaulatan Allah, di dalam hikmat Allah. Kasih karunia Allah sedang dieksploitasi, dan kita diberi tahu bahwa di masa yang akan datang, kasih karunia yang melimpah-Nya akan ditunjukkan kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa melalui kita – kasih karunia-Nya yang melimpah. Segala sesuatu adalah dari kasih karunia seluruhnya. Bukan hanya keselamatan, tapi segala sesuatu tepat sampai akhir. Lihatlah kata di Zakharia, batu utama yang diletakkan di atas bait suci ditempatkan pada posisinya dengan sorakan “Kasih karunia, kasih karunia kepadanya.” Dan Efesus hanyalah Rumah Allah yang dibawa ke dalam pandangan dan ketika Rumah Allah disempurnakan, selesai, hal terakhir yang akan dikatakan tentang Rumah Allah yang lengkap dan sempurna adalah “Kasih Karunia”.

Tidak ada lebih banyak jasa dalam pelayanan dari pada apa yang ada dalam keselamatan, tidak ada lebih banyak jasa dalam pengetahuan rohani dari pada dalam pembenaran kita: ini semua adalah oleh karena kasih karunia. Saya ingin menekankan bahwa Allah harus memiliki dasar itu sebelum Ia dapat melakukan hal-hal. Kita memiliki cara untuk kembali kepada Tuhan dan setelah semuanya, berusaha dengan beberapa cara tertentu menyarankan sebuah klaim pada Dia, sebuah hak, sebuah jasa, suatu kelayakan, menyajikan Dia dasar pada apa kita merasa bahwa Tuhan harus melakukan ini dan harus melakukan itu, dan Tuhan menuntut bahwa kita harus datang untuk setiap tahap dan aspek dari kehidupan rohani kita dan hubungan kita dengan-Nya ke tempat di mana: “Tuhan, jika Engkau melakukannya, itu semuanya akan menjadi kasih karunia”; “Jika pekerjaan-nya selesai, itu semuanya adalah oleh karena kasih karunia.” Tuhan menuntut dasar itu. Saudara menemukannya melalui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dasar di mana Tuhan bekerja, apakah kita sepenuhnya dan seluruhnya menyadari itu, apa pun yang Tuhan lakukan itu akan menjadi semuanya kasih karunia-Nya, dan sementara di dalam Kristus kita memiliki hak istimewa dan Tuhan kadang-kadang akan memanggil kita untuk mengajukan klaim pada pemenuhan janji-janji-Nya – bagaimanapun juga, di sisi-Nya, itu semuanya adalah oleh karena kasih karunia. Jadi marilah kita melepaskan pada kasih karunia-Nya dan memberi Dia dasar yang Ia perlukan untuk melakukan hal-hal yang membesar terus-menerus, dan tidak pernah menjadi sesuatu dalam diri kita sendiri sebagai orang percaya atau sebagai pekerja, atau sebagai yang memiliki pengetahuan apa pun, tetapi memegang segala sesuatu sebagai kasih karunia Allah.


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.