Austin-Sparks.net

Pentingnya dan Nilai dari Pengalaman

oleh T. Austin-Sparks

Pertama kali diterbitkan dalam majalah "A Witness and A Testimony" Juli-Agustus 1951, Jilid 29-4. Judul asli: "The Importance and Value of Experience". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5).

Pengalaman Diperoleh Melalui Kesengsaraan

“Ketekunan menimbulkan tahan uji.”

Ada terjemahan yang berbeda dari kata yang diterjemahkan di sini ‘tahan uji’ – di dalam Versi Berwenang, kata ini adalah ‘pengalaman’, di dalam Versi Revisi, kata ini adalah ‘masa percobaan’ dan dalam Versi Revisi Amerika, kata ini adalah ‘disetujui’ – menunjukkan bahwa kata ini seharusnya kata yang kaya, sebuah kata yang memiliki beberapa makna dan isi. Kata ini benar-benar berarti tahan uji sebagai hasil dari pengujian, dan saya benar-benar berpikir bahwa Versi Berwenang memberikan terjemahan yang terbaik dalam menggunakan kata ‘pengalaman’, karena dari akar kata yang sama kita mendapatkan kata ‘percobaan’ – sebuah pencobaan dan hasilnya; dan itulah inti dari kata ini di sini. “Kesengsaraan menimbulkan ketekunan” (atau kesabaran, jika saudara suka) dan ketekunan (atau kesabaran), pengalaman.”

Dalam Perjanjian Baru, bukan hanya dalam pernyataan tetapi dalam banyak hal, pengalaman memiliki tempat yang sangat tinggi sesungguhnya dalam pekerjaan Allah dan memiliki kepentingan dan nilai yang sangat besar di mata Allah. Pengalaman sebenarnya adalah kualitas atau esensi perawakan, kedewasaan. Ada ketidak-hadiran serius pemimpin-pemimpin yang luar biasa di zaman kita di setiap alam, pemimpin-pemimpin yang kita dapat katakan bahwa mereka adalah kepala dan bahu di atas rekan-rekan mereka. Ada saat ketika itu adalah sebaliknya. Dalam dunia politik dan kenegarawanan, dalam seni dan sastra dan musik, ada nama-nama besar, tapi mereka sebagian besarnya milik generasi masa lalu. Orang-orang seperti itu tidak ada bersama kita hari ini, dan kekurangan serius kepemimpinan, orang-orang berperawakan, orang-orang yang terhitung ini. Tuhan menempatkan kepentingan yang begitu besarnya pada pengalaman, dan menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang bisa menjadi pengganti baginya, dan bahwa Ia sendiri siap untuk mengambil risiko yang sangat besar dan serius dengan orang-orang demi mengerjakan pengalaman ke dalam mereka.

Kadang-kadang tampaknya Tuhan sedang bereksperimen dengan kita. Entah itu cara yang tepat untuk mengatakannya atau tidak, maksud saya benar. Karena nilai dan pentingnya yang sangat besar, Tuhan siap untuk memasukkan kita ke dalam situasi di mana konsekuensi yang paling serius dapat terjadi, demi mendapatkan satu hal ini; sebab ini adalah inti kebergunaan dan nilai bagi-Nya – pengalaman.

Pengalaman Tidak Dapat Ditransfer

Pengalaman dengan Allah jauh lebih dari sekedar pengetahuan. Kita mungkin sangat banyak diberi informasi, dan memiliki banyak pengetahuan, namun, kurang pengalaman, pengetahuan kita akan tetap menjadi informasi teknis semata. Pengalaman lebih dari sekedar pengetahuan. Ini juga jauh lebih dari sekedar kepintaran manusia. Orang pintar mungkin bisa melakukan banyak hal dan tampak sepertinya sukses. Tidak adanya kualitas pengalaman ini akan menemukan bahwa struktur mereka akan cepat atau lambat runtuh, sebab tidak ada bobot di sana. Pengalaman adalah sesuatu yang tidak dapat kita warisi, juga tidak dapat ditransfer dari satu ke yang lain dengan cara lain apa pun; ini harus dibeli. Oleh karena itu, pengalaman adalah satu-satunya milik dan properti individu yang memilikinya. Ini adalah sesuatu yang sangat pribadi. Jika hal ini mungkin bagi Bapa untuk membawa Anak-Nya sendiri, Tuhan Yesus, ke tujuan yang telah dirancang dan ditentukan dengan cara lain apa pun, Ia pasti telah melakukannya. Satu-satunya cara adalah pengalaman: “… Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibrani 5:8); Ia dibuat menjadi “sempurna melalui penderitaan” (Ibrani 2:10). Bahkan Yesus Kristus (dan saya berbicara dalam arti tertentu) harus membeli pengalaman-Nya. Ia harus sampai pada akhir penuh, atau pada akhir dari kepenuhan, untuk dijadikan sempurna, lengkap, dengan cara pengalaman.

Roh Kudus, dengan semua yang diartikan dari karunia Roh dari pengabdian dan pemberkatan dan pengajaran dan penguatan, bukanlah pengganti pengalaman. Kita sering ditemukan meminta bahwa hal-hal tertentu dilakukan untuk kita oleh Roh Kudus yang Roh Kudus tidak akan pernah lakukan. Ia harus membawa kita ke dalam pengalaman. Inilah satu-satunya cara di mana Ia bisa menjawab doa kita. Banyak doa dijawab melalui pengalaman. Saudara meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu, dan Ia membawa saudara melalui pengalaman, dan saudara sampai pada jawabannya dengan cara itu. Saudara tidak bermaksud demikian, tentu saja: saudara ingin Tuhan melakukan hal itu langsung di sana dan di tempat itu juga sebagai sebuah hadiah, sebagai sebuah tindakan; tapi itu pasti hanya sekedar objektif, sesuatu yang diberikan, sedangkan Ia ingin menjadikannya bagian dari diri saudara sendiri, dan jadi Ia menjawab doa melalui beberapa pengalaman. ‘Ketekunan menimbulkan pengalaman’, dan jika tidak ada pengalaman, apa kebaikan seseorang atau apapun?

Jadi, pengalaman lebih penting daripada dibebaskan dari kesengsaraan. ‘Kesengsaraan menimbulkan pengalaman.’ Oh, seberapa sering kita bertanya kepada Tuhan mengapa Ia membiarkan ini atau itu, atau mengapa Ia tidak melakukan ini atau itu. Mengapa Ia tidak menghalangi Adam dari berbuat dosa? Mengapa Ia tidak menghentikan dunia dalam banyak hal yang memiliki hasil yang paling mengerikan? Pengalaman sangat banyaknya adalah jawabannya.

Pengalaman, Kualitas Pelayanan itu Sendiri

Pengalaman sangat penting karena, bagaimana pun juga, ini adalah kualitas pelayanan itu sendiri. Ketika kita sampai pada kehidupan yang nyata, dan kita benar-benar datang berlawanan dengan hal-hal dan masalahnya memiliki konsekuensi yang terbesar, kita tidak menginginkan hanya informasi saja, kita menginginkan pengalaman, dan kita pergi ke mana pengalaman dapat membantu kita. Bukankah begitu? Dengan demikian pengalaman adalah tubuh dan kualitas pelayanan dan kebergunaan kepada Tuhan itu sendiri.

Bunyan, dalam alegori-nya, memiliki seorang laki-laki bernama Pengalaman, satu dari empat gembala di Pegunungan Lezat – Pengetahuan, Pengalaman, Waspada dan Tulus – semuanya tentu saja merupakan bagian dari satu pelayanan yang penuh dan tidak boleh dianggap terpisah. Ada pengetahuan yang, jika berada di tangan atau bersamaan dengan pengalaman, baik-baik saja, dan seseorang tidak mengabaikan nilai pengetahuan; tapi ini harus menjadi pengetahuan eksperimental, ini harus bersamaan dengan pengalaman. Dan tentang Pengalaman ini, sang gembala, apa kata Bunyan? Seorang pengunjung ke negara keempat gembala itu menggambarkannya seperti ini: ‘Tegas rangkak bentuk dan wajah, mata yang cerdik tapi ramah, kesiapan yang bahagia dalam keterikatannya, dan semua hikmatnya yang diperoleh dengan susah payah paling jelas berjalan di kaki di dalam dirinya sebagai kemampuan untuk bekerja dan untuk kontrol.’ Itu adalah definisi pengalaman yang baik: ‘kemampuan untuk bekerja dan untuk kontrol,’ ‘hikmat yang diperoleh dengan susah payah.’ Ia adalah seorang gembala, dan kita tahu bahwa gagasan Injil tentang gembala berbeda dari kita. Seorang gembala di tanah kita harus mencari-cari domba untuk mencoba membawa mereka bersama, menggunakan anjing dan cara lain untuk mengumpulkan mereka. Seorang gembal di negeri Aram hanya harus pergi ke tempat tertentu dan mulai menyanyikan mazmur dan domba-domba itu mengenal suaranya dan berkumpul kepadanya, dan ia dapat menuntun mereka ke mana pun saat ia mendoakan doanya atau menyanyikan mazmurnya. Mereka mengenal suaranya dan mengikutinya. Dan begitulah pada hari ini: kepemimpinan adalah pengembalaan; pengembalaan adalah kepemimpinan. Tapi pengalaman adalah gembala-nya, oleh karena itu pengalaman adalah pemimpinnya.

Tentu saja, ini sepenuhnya tergantung pada apakah kita prihatin untuk menjadi nilai terbesar bagi Tuhan dan orang lain, atau apakah kita egois. Jika kita sedemikian berprihatin, masalah pengalaman ini akan menarik perhatian kita, tapi jika sebaliknya, maka apa yang saya katakan tidak akan berarti apa-apa. Tapi ini dia, Tuhan memberi nilai pada masalah kebergunaan, dan apakah kita secara mental tertarik atau tidak, dan apakah hati kita untuk saat ini telah terikat dengannya, kita tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa Tuhan secara aktif terlibat dalam pekerjaan ini; Ia berusaha membuat kita menjadi berguna. Apa sebab dan mengapa pengalaman, dari cara yang sulit dan susah yang Allah bawa kita, dan dari cara di mana Dia, dapat dikatakan, mengambil risiko yang mengerikan dengan kita? Ia memang tampaknya mengambil risiko. Ia menanggung risiko pemberontakan kita, ia mempertaruhkan kepahitan kita, Ia mempertaruhkan salah tafsir kita akan urusan-Nya dengan kita, Ia mempertaruhkan ‘menendang atas jejak’ kita dan melepaskan diri dan kabur. Ia mengambil banyak risiko ketika Ia menempatkan kita ke dalam situasi-situasi sulit, tapi menurut-Nya itu berharga untuk pengalaman; sebab bahkan reaksi salah kita pun akan membuat menjadi pengalaman dalam jangka panjangnya. Bahkan pemberontakan dan kepahitan kita Ia akan mengendalikannya secara daulat, dan kita akan datang mengetahui bahwa kita dapat mempelajari sesuatu di sepanjang garis itu; kita akan dapat membantu, mengajar dan memberi saran di mana bantuan semacam itu dapat diterima dan dibutuhkan. Ya, Ia melakukan semuanya itu untuk mendapatkan pengalaman, untuk menjadikan kita bukan pendeta-pendeta profesional melainkan orang-orang yang adalah gembala-gembala, ‘tegas rangkak bentuk dan wajah’, dengan ‘mata yang cerdik tapi ramah’ itu, kesiapan itu, dengan semua ‘hikmat yang diperoleh dengan susah payah’ itu, untuk membantu mereka yang membutuhkannya. Itulah apa yang Tuhan sedang lakukan dengan kita, untuk membawa pengalaman.

Pengalaman Praktikal, Tidak Teoritis

Jadi pengalaman adalah jumlah total dari apa yang praktikal. Ini adalah eksperiensial, eksperimental, ini adalah sisi praktikal dari pengetahuan. Ini hampir terlalu jelas untuk perlu diucapkan. Kesengsaraan sangatlah praktikal, sangat nyata, saudara tidak bisa melepaskan diri darinya. Tuntutan untuk kesabaran dalam kesengsaraan sangatlah praktikal; itu bukan teori. Dan jika objek kesengsaraan dalam mengerjakan kesabaran adalah ketekunan, adalah pengalaman, ini sangatlah baik. Kita mungkin kekurangan banyak hal lainnya, kita mungkin tidak memiliki pengetahuan atau pembelajaran yang hebat, kemampuan atau kepintaran yang luar biasa, oleh apa dunia menetapkan toko semacam itu. Jika hal itu sampai pada ujian di mana kita diuji oleh standar kemampuan dunia ini, dan kita harus menjawab dan berkata, ‘Aku hanya memiliki pengalaman’, itu tidak akan jatuh sama sekali. Mereka akan berkata, ‘Gelar apa yang telah saudara dapatkan, ujian apa yang telah saudara berhasil luluskan?’ Untuk mengatakan bahwa kita memiliki beberapa pengalaman tidak akan cukup, sedangkan jika kita memiliki semua yang lain tanpa pengalaman, kemungkinan besar kita bisa diterima di dunia ini. Tapi tidak seperti itu dengan Allah. Ujian yang diadakan berada atas dasar yang sama sekali lain. Kita mungkin tidak memiliki banyak hal, kita mungkin tidak berarti terlalu banyak, kita mungkin dihina mengenai apa yang telah kita capai dengan cara akademis, jabatan apa yang kita pegang, gelar apa yang kita miliki – kita mungkin tidak berarti banyak di dunia ini, tapi ingatlah bahwa Allah menempatkan lebih banyak kepentingan pada pengalaman daripada semua yang lain itu, dan itu adalah suatu hal yang bisa kita semua miliki. Dari yang terkecil hingga yang terbesar, kita semua bisa memiliki pengalaman, dan karena di hadapan Tuhan, ini begitu pentingnya, Ia merasa perlu untuk memberi tahu kita banyak kesengsaraan. “Kesengsaraan menimbulkan … pengalaman.”

Apakah saudara telah mengerti sepenuhnya kata-kata ‘kesengsaraan’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris kita itu? Kesengsaraan adalah kata gambar dalam bahasa Yunani – gambaran tentang alat pertanian yang kita sebut sebagai garu; dan saudara tahu apa yang kita maksudkan ketika kita mengatakan bahwa kita memiliki pengalaman yang menggaru. Oh, robekan dan potongan dan koyak-kan dari garu itu! Itulah katanya di sini, secara harfiah, sebenarnya; garu menggaru di punggung kita, dan itu menghasilkan pengalaman. Pengalaman memiliki nilai seperti itu.

Pengalaman Bernilai Kekal

Apa lagi yang bisa kita katakan selain bahwa itu pasti bernilai kekal? Nilai harus abadi, jika tidak, hidup adalah misteri dan teka-teki yang tak dapat dijelaskan. Waktunya mungkin datang ketika saudara sekalian, orang-orang muda, setelah melewati pengalaman yang mendalam dan setelah membeli pengalaman saudara dengan harga yang tinggi, dan dengan demikian memiliki sesuatu yang sangat berharga bagi saudara, menemukan bahwa orang-orang yang lebih muda tidak menginginkan pengalaman saudara, dan tidak memikirkan bahwa itu berarti apa pun sama sekali, dan tidak pernah berkonsultasi dengan saudara. Ketika apa yang saudara miliki melalui pengalaman yang mendalam memiliki sangat sedikit jalan keluar di dunia ini, ruang lingkup ekspresi yang sangat terbatas, sungguh sebuah teka-teki! Semua ini yang telah saudara lalui, semua yang telah saudara beli dengan harga yang begitu mahal, apa nilainya? Itu pasti abadi. Allah pasti bekerja untuk mendapatkan sesuatu dengan jangkauan yang lebih panjang daripada kehidupan yang buruk ini. Dengan kesengsaraan meningkat mungkin seiringan bertambahnya usia, untuk apa semua ini? Nah, Ia bekerja dengan pandangan yang lebih panjang, dan harus ada sesuatu yang dapat dihitung dengan-Nya di luar batas waktu, dan jadi Ia membiarkan kesengsaraan untuk menimbulkan kesabaran, dan kesabaran pengalaman; “pengetahuan akan lenyap”; tetapi pengalaman akan menetap dan melayani sampai pada kekekalan.


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.