Austin-Sparks.net

Terbit, Siang Hari, Terbenam-nya Jemaat Besar

oleh T. Austin-Sparks

Pertama kali diterbitkan di dalam majalah “Saksi dan Kesaksian,” Juli-Agustus 1963, Jilid 41-4. Judul asli: "The Rise, the Noon, the Sundown of a Great Church". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)

Kisah Para Rasul 19; 20. 2 Timotius. Wahyu 2:1-5.

Seperti kemuliaan pagi yang berseri-seri, penuh dengan janji dan pertanda yang diberkati: seperti kuasa, kekayaan, kemurahan hati dari siang hari, seperti berlalunya hari yang mulia, bayang-bayang yang berkumpul, malam yang mendekati dengan cepat, rasa kemunduran, kehilangan, dan kegagalan; adalah kisah ‘Efesus’ seperti yang kita miliki dalam Perjanjian Baru. Ini adalah sebuah kisah, secara bersejarah, tentang janji yang berlimpah; tentang kekayaan yang berlimpah; dan tentang tragedi pada akhir.

Pagi yang Berseri-Seri

Kisah permulaan yang mulia itu diceritakan dalam Kisah Para Rasul 19 dan 20:17-38.

Pertama, ini adalah sebuah kisah tentang permulaan kecil dengan beberapa murid-murid, yang, setelah memiliki pengajaran yang tidak sempurna dan terang yang terbatas, membuat tanggapan sepenuh hati terhadap pencerahan lebih lanjut, dan mengambil pendirian mereka pada makna penuh dari Salib sebagaimana ditandai oleh baptisan – kematian, penguburan, kebangkitan dalam Kristus, dan pemerintahan Roh Kudus sebagai akibatnya.

Kemudian, itu adalah kisah yang tak terhindarkan dan tidak berubah dari pemberontakan kuasa kejahatan dan konflik yang intens: pembaptisan sejati ke dalam peperangan sorgawi dan penderitaan Kristus. Itu adalah reaksi “penguasa dunia kegelapan ini” terhadap invasi wilayah mereka oleh Yesus Kristus. Melalui konflik ini, kesaksian didirikan dan jemaat bertumbuh kuat.

Ketiga, ini adalah kisah tentang periode yang panjang dari pembangunan, pengajaran, pada waktu di mana nilai-nilai rohani secara spontan menjadi ekstra-lokal dan “seluruh Asia mendengarkan firman.” Sifat sejati dari Jemaat universal menjadi sifat jemaat lokal; bukan dengan desain yang terorganisir, bukan oleh komite, mesin, dan institusi, tetapi oleh kehidupan rohani yang spontan dan meluap.

Keempat, ini adalah pengulangan setia dari semua yang telah dilakukan dan diberikan dengan biaya besar, melalui banyak kesusahan, dan kesetiaan tanpa kompromi kepada Kristus dan kebenaran. Catatan terakhir dari peringatan kenabian menutup zaman itu; memperingatkan bahwa, jika serangan sengit dan ganas musuh dari luar gagal untuk menghancurkan jemaat itu, kesaksiannya, dan pengaruhnya yang menjangkau-jauh, ia akan berbalik ke dalam dan “bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang … berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikuti mereka” (Kisah Para Rasul 20:30).

Semua itu membentuk awal yang indah dan menggairahkan. Betapa vital dan pentingnya permulaannya! Kalau saja setiap jemaat lokal memiliki awal yang begitu jelas dan transparan! Itu adalah dari Allah, bukan dari manusia. Itu sepenuhnya dari Roh, dan bukan dari daging. Itu adalah dari Sorga dan bukan hanya atas dasar duniawi. Oleh karena itu, ia memiliki semua fitur panggilan sorgawi; ada kegenapan sorgawi yang secara spontan meluap ke daerah-daerah yang jauh, dan kuasa sorgawi yang – sementara hal-hal tetap benar – menang atas serangan berbahaya manusia dan kuasa jahat dari banyak sisi.

Sementara itu tetap berada atas dasar sorgawi, Sorga mendukungnya. Bahwa ia bertahan begitu lama dan memiliki pengaruh yang begitu besar disebabkan oleh kesehatan awalnya.

Siang Hari

Meskipun kita harus, mungkin, membiarkan bagian terakhir dari apa yang telah kita tulis tumpang tindih ke fase kedua ini, kita merasa bahwa kobaran api penuh dari siang hari tentang signifikansi ‘Efesus’ harus dilihat dalam Surat yang namanya (mungkin dengan yang lainnya) dilampirkan. Paulus saat itu berada di penjara di Roma. Dalam kedaulatan Allah, ia telah terputus dari perjalanan yang sebenarnya di antara jemaat-jemaat secara pribadi, dan dari semua kegiatan yang, meskipun pernah vital dan penting, sekarang harus memberikan tempat kepada fase baru.

Tuhan yang memerintah segala sesuatu dalam hidup hamba-Nya, yang bertindak berdasarkan prinsip nilai-nilai komparatif, menilai bahwa tujuan terbesar akan dilayani dengan mengucilkan hamba-Nya dalam pengasingan, setidaknya untuk sementara waktu. Jadi, ke penjara di Roma ia pergi, terlepas dari segala upaya jahat untuk mengakhiri hidupnya di perjalanan. Betapa penuhnya dan sempurnanya hikmat Allah telah terbuktikan!

Sejak “penglihatan sorgawi” menimpanya di jalan menuju Damsyik, dalam kurun waktu sekitar dua puluh delapan hingga tiga puluh tahun, penglihatan itu terus tumbuh dan tak henti-hentinya bertumbuh dalam makna dan signifikan. Itu telah ditambahkan oleh penglihatan dan wahyu khusus dari Tuhan (2 Korintus 12:1), dalam meditasi, pemikiran, dan pengalaman; dalam banyak perjalanan panjang dengan berjalan kaki, dan melalui lautan. Sebanyak apa yang telah ia berikan dalam surat-surat, masih ada sisa besar yang tersimpan di dalam hatinya, yang menuntut pelepasan yang tenang dan kebebasan dari tanggung jawab administratif untuk pembebasannya. Jadi, Tuhan merencanakannya. Betapa besarnya hutang Jemaat universal selama berabad-abad berutang kepada tindakan kebijaksanaan dan kedaulatan Ilahi itu!

Kami tidak ragu untuk mengatakan bahwa dokumen terbesar yang pernah ditulis dan diberikan kepada manusia adalah apa yang disebut “Surat kepada Jemaat di Efesus”. (Kami tahu anggapan bahwa itu adalah sebuah ensiklik, dan bahwa ‘Efesus’ diisi ke dalam ruang kosong yang tersisa untuk berbagai tempat lain, dan kami tidak memiliki pertengkaran dengan kesimpulan itu.) Bagi Efesus, hal itu memang dimaksudkan dan fakta itu membawa dengannya implikasi-implikasi tertentu.

Pertama. Ini adalah fakta yang terbukti dengan baik, diketahui oleh semua pengkhotbah dan guru-guru yang menggenapi pelayanan mereka dalam Roh, bahwa ukuran kebebasan dan tingkat ucapan tergantung pada kapasitas penerimanya. Yesus menyatakan fakta ini ketika Ia berkata: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya” (Yohanes 16:12), dan hal ini dinyatakan dengan jelas dalam Ibrani 5:11. Batasnya ditentukan oleh ketidakdewasaan, pertumbuhan yang tertangkap, atau kurangnya kehidupan rohani di dalam pendengar. Seorang hamba Tuhan, yang berbicara dalam Roh, akan tahu kapan ia tidak bisa melangkah lebih jauh, dan untuk berusaha terus maju akan mengakibatkan hilangnya pengurapan dan bantuan. Ini seolah-olah Roh berkata, ‘Itulah sejauh mana Aku dapat pergi dengan orang-orang ini, mereka tidak dapat menerima lebih banyak lagi.’ Di sisi lain, alangkah baiknya bila tidak ada pengekangan seperti itu, dan ini adalah mungkin untuk memberikan semua yang saudara miliki sebab orang-orang hanya menariknya keluar dan tidak lelah!

Ini jelasnya bagaimana itu dengan orang-orang kepada siapa Surat ini dituliskan. Rasul dapat mencurahkan simpanan kekayaan sorgawi yang terpendam. Satu-satunya cacatnya adalah bahasa, Superlatif ditumpuk dengan superlatif. Ia mengemis bahasa dan kadang-kadang merusak tata bahasa dalam upayanya untuk membebaskan dirinya dari beban-nya. Tidak ada yang begitu mendalam; tidak ada yang begitu mulia; dan tidak ada yang begitu penting bagi Jemaat seperti yang terdapatkan di sini – atau dilepaskan!

Orang-orang percaya itu pasti berada dalam keadaan rohani yang sehat untuk menerima semua itu. Paulus pasti merasakan betapa bebasnya keadaan itu membuatnya, untuk begitu membuka ‘yang sorgawi’ – kata yang begitu khas dari Surat itu.

Sebuah perkumpulan orang Kristen akan mendapatkan apa yang mereka siap untuk dapatkan. Tuhan memiliki banyak simpanan dan Ia hanya dibungkamkan di dalam kita. Salah satu hal yang paling menyedihkan yang dikatakan tentang Israel adalah: “Diberikan-Nya kepada mereka apa yang mereka minta, dan didatangkan-Nya penyakit paru-paru di antara mereka” (Mazmur 106:15). Suatu sikap dan kondisi hati akan menentukan ‘penyakit’ atau limpah.

Kedua. Itu bukan hanya ukuran dari apa yang bisa diberikan, itu juga sifatnya. Bukan dalam volume saja, nilai dapat ditemukan. Volume dapat menyebabkan kejenuhan dan penindasan. Tidak juga dalam kata-kata atau pernyataan seperti itu. Orang-orang yang kepadanya surat ini dikirimkan tidak hanya telah mengembangkan sebuah kemampuan untuk mengambil tugas besar ide-ide indah.

Ada, di dalam pelayanan yang sesuai dengan kalimat pemazmur – “Samudera raya berpanggil-panggilan.” Mereka memiliki kepekaan yang lahir dari kelaparan dan kebutuhan, dan mereka mendeteksi bahwa ini adalah hidup yang sesungguhnya. Karena suatu kondisi, itu adalah hidup bagi mereka.

Ada hal-hal dalam Surat ini yang telah membagi orang selalu menjadi tiga kelas. Ada mereka yang tidak memiliki kehidupan rohani sama sekali dan reaksi mereka hanyalah untuk menyerahkan segalanya sebagai sesuatu yang sangat di luar pemahaman dan misterius. Lalu ada orang ‘intelektual’ dan orang teolog, yang telah menyelesaikan isinya menjadi ‘sekolah’ ajaran dan penafsiran yang berbeda. Semuanya begitu dingin dan mati: atau itu tidak menuju ke mana-mana ketika hati hancur untuk beberapa terang sorgawi; itu adalah buah Laut-Mati, debu dan abu; sakit kepala dan kelelahan.

Tetapi, ada mereka yang benar-benar memiliki “roh hikmat dan wahyu” dan ‘pengurapan’ yang berdiam di dalam; yang mengetahui Langit terbuka karena Salib telah menghancurkan penghalang-penghalang alami. Bagi mereka ini adalah sifat, esensi, terang sorgawi; potensi Ilahi, dan berkah yang menggairahkan dari apa yang diungkapkan, bukan ide-ide dan konsep-konsep. Orang-orang percaya di Efesus jelas-jelasnya seperti itu. Setidaknya, ada jumlah yang cukup yang sedemikian di sana.

Ada faktor lain yang sudah diisyaratkan, yang harus digarisbawahi. Orang-orang percaya itu telah menderita, dan terus menderita. Kondisi mereka membuatnya sangat esensial bahwa mereka memiliki lebih dari sumber daya nominal dan biasa. Ya, itu adalah suatu keharusan. Mereka lapar. Mereka melawan kekuatan jahat. Mereka secara sadar membutuhkan bantuan dalam pertempuran. Agama tradisional telah mengecewakan mereka. Makanan rohani sulit didapat.

Cadangan besar yang Allah berikan kepada orang-orang dalam kondisi seperti itu dan di dalam keadaan seperti itu hanya akan menjadi vitalitas lagi ketika, untuk beberapa penyebab atau alasan, itu sekali lagi menjadi masalah hidup atau mati; masalah terang hidup atau kita binasa!

Matahari Terbenam

Sayang sekali bahwa kita tidak dapat meninggalkan kisahnya di sana. Tetapi, sedih untuk mengatakan, catatannya berakhir dengan ‘pagi yang cerah telah berlalu, dan menghabiskan terlalu cepat simpanan emasnya.’

Kami menggabungkan dua Kitab Suci: -

“Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku” (2 Timotius 1:15);
“Kepada Jemaat di Efesus … Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan; Jika tidak demikian … Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya” (Wahyu 2:1). “Meninggalkan kasihmu yang semula.” “Betapa dalamnya engkau telah jatuh.” “Kaki dianmu dari tempatnya.”

Jika, seperti yang diyakini secara umum, Paulus menulis Surat itu selama penahanan pertamanya, dan dibebaskan selama sekitar empat tahun, dan kemudian menulis kepada Timotius selama penahanan kedua dan terakhir, pastilah ini selama empat tahun itulah bahwa tragedi di Efesus dimulai. Seluruh nada-nya telah berubah, seluruh tingkat menurun. “Semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku.” Timotius memiliki tanggung jawab di Efesus. Kita hanya perlu membaca Surat Kedua kepadanya untuk melihat apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi di Asia. Ini adalah kisah yang tragis.

Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan darinya.

Pertama. Seberapa cepatnya seluruh situasi bisa berubah, dan seberapa hebatnya ‘kejatuhan’ itu ketika – di bagian dalam – polis mengambil tempat prinsip; ketegasan pribadi mengesampingkan pemerintahan rohani (ada sejumlah nama pribadi yang disebutkan dengan mendiskreditkan dalam Surat ini); ketika kerohanian dalam tatanan, ‘jabatan’, dan prosedur dibuat untuk memberikan tempat bagi organisasi, tatanan duniawi, dan sebuah sistem teknis. Entah itu adalah celaan dan pengucilan Paulus, penghukumannya yang mendiskreditkan dan yang mengancam terlalu banyak bagi orang-orang ini sekarang, dan oleh karena itu mereka berpaling dari padanya; atau standarnya sekarang terlalu tinggi dan menuntut mereka dan mereka telah mengembangkan kompleks inferioritas rohani; mungkin ini adalah beberapa dari keduanya; tetapi dengan ‘jatuh’ Tuhan bermaksud turun ke tingkat yang lebih rendah.

Dan karakteristiknya? Kehilangan kasih yang semula – yang asli dan yang perawan; dan meninggalkan “pekerjaan yang semula,” yang merupakan ekspresi awal dari penglihatan awal dan utama.

Ini adalah sesuatu yang harus dipikirkan bahwa, ketika berbicara di Efesus, Tuhan berkata: “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu,” dan kemudian harus menuntut mereka untuk melakukan “pekerjaan yang semula.” Ia tidak menuntut mereka karena mereka tidak memiliki pekerjaan atau jerih payah, tetapi dengan keberangkatan mereka dari pekerjaan yang semula mereka.

Kedua. Ini adalah mungkin untuk ‘berpaling dari’ alat Tuhan dan menolak apa yang telah Ia berikan, tetapi ini dengan demikian tidak mungkin untuk menjauh dari Tuhan.

Paulus telah pergi – sekitar tahun 64 A.D. Yohanes kemungkinan besar menulis kitab Wahyu dua puluh tahun – atau lebih – kemudian. Pada saat itu, kemunduran itu telah menjadi begitu besarnya sehingga Tuhan dengan serius mengajukan pertanyaan tentang pembenaran kelanjutan dari Kaki Dian – alat Kesaksian. Tentu saja, ini adalah mungkin bahwa unsur-unsur kemerosotan ini hadir dalam masa hidup Paulus dan bahwa selain dari Aleksandar tukang tembaga itu, unsur-unsur itu ditekan. Tuhan mungkin telah menyingkirkan Paulus karena Ia mengetahui ini, sebab Ia tidak percaya dalam penekanan. Apa yang hadir akan cepat atau lambat, diberikan kesempatan untuk mewujudkan dirinya sendiri untuk diadili. Bagaimanapun juga, apa yang dari Tuhan tidak dapat dikesampingkan oleh manusia tanpa perjumpaan dengan Allah pada waktu yang dipilih-Nya.

Ini akan menjadi dorongan tertentu bagi semua hamba Tuhan yang setia untuk mengetahui bahwa waktu adalah sekutu Allah, dan bahwa ‘jerih payah mereka tidak sia-sia di dalam Tuhan,’ apakah mereka melihatnya di masa hidup mereka atau tidak.

Kita sampai pada kata terakhir. Ini bukanlah Efesus atau tempat lain mana pun atau hal-hal yang Tuhan tentukan agar tetap utuh. Dunia penuh dengan tempat-tempat dan lembaga-lembaga yang dulunya merupakan pemandangan kemuliaan, kekuasaan dan penggunaan-Nya, tetapi yang pada hari ini adalah cangkang atau bayangan dari kejayaan sebelumnya. Allah tidak begitu peduli dengan caranya seperti Ia peduli dengan nilai-nilai rohani yang akan diungkapkan oleh kekekalan. Ini adalah orang-orang yang menjadi perhatian-Nya, dan orang-orang dengan ukuran rohani yang tidak berkurang oleh waktu. Ini adalah – terutamanya – ukuran emas Kristus sebagaimana yang dilambangkan oleh Kaki Dian.


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.