Austin-Sparks.net

Jalan Kota dari Emas Murni

oleh T. Austin-Sparks

Pertama kali diterbitkan di dalam majalah "Toward the Mark" Sep-Okt, 1975, Jilid 4-5. Judul asli: "The Street of Pure Gold". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)


“Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu” (Wahyu 22:1-2).

Melewati gambaran umum tentang kota yang kudus dalam Wahyu 21, rasul Yohanes kemudian berkata bahwa ia ditunjukkan kota itu sebagai yang terdiri dari satu jalan tunggal dan sentral, dengan sungai yang mengalir keluar di tengah-tengah jalan kota dari emas murni itu. Signifikansi rohani dari penglihatan adalah kesatuan sempurna Kristus sebagaimana dinyatakan dalam kesatuan yang indah, di mana Ia memiliki tempat sentral. Ini adalah maha-karya Allah, kesatuan persekutuan Roh ini yang menjadikan Kristus dan anggota-anggota-Nya satu. Melalui kota ini, Allah berencana untuk melayani ke seluruh jajaran alam semesta-Nya. Bangsa-bangsa harus berjalan dalam terang-nya dan untuk mendapatkan kesehatan dari dedaunan pohon-pohon kehidupannya. Allah bermaksud melayani berkat bagi alam semesta-Nya dari posisi sentral Jemaat, di mana Kristus adalah Tokoh sentral-nya.

Jika hal ini demikian, maka kita harus percaya bahwa unsur kesatuan ini adalah prinsip yang vital, dan bahwa bahkan sekarang, Tuhan bekerja untuk menghasilkan dan memeliharanya. Meskipun tujuan akhir Allah adalah masa depan, ia pasti harus memberikan sinarnya pada masa kini. Ketika kota yang mulia itu tiba-tiba muncul ke dalam pandangan, kota itu mungkin tampak datang ‘tiba-tiba’, tetapi pada kenyataannya, itu hanya akan mewakili kemunculan terakhir dari apa yang telah datang secara rohani di sepanjang waktu. Ada perasaan di mana masing-masing dari kita mengutus terlebih dahulu nilai-nilai rohani itu di dalam Kristus, yang sedang dikembangkan di dalam kita. Ketika kita mengikuti perumpamaan pengantin perempuan, kita berpikir tentang pakaian yang sedang dipersiapkan sekarang, sebagai beberapa keunggulan, beberapa keindahan, beberapa sifat Kristus dijalin seperti seutas benang ke dalam kain pakaian pengantin. Kita akan ‘mengenakan’ Kristus pada saat itu karena kita sedang belajar mengenakan Dia sekarang. Tampaknya, dengan cara yang sama, bahan dari kota sorgawi sedang dipersiapkan sekarang. Memang benar bahwa setiap bagiannya mewakili beberapa aspek Kristus, tetapi sekali lagi, ini harus disadari bahwa ungkapan-ungkapan Kristus ini harus dibentuk di dalam kita sekarang. Penyempurnaannya akan terlihat di kemudian hari, tetapi kota ini sedang terbentuk secara rohani sekarang.

Apa yang akan menjadi benar pada akhirnya tentang panggilan kekal Jemaat sebagai kota metropolis alam semesta baru Allah, memberikan sedikit terang tentang apa yang seharusnya benar di sini dan pada saat ini. Dalam kekekalan, kemuliaan Allah harus dilayani atas dasar kesatuan absolut. Pertama-tama, ini berarti kesatuan dengan diri Tuhan Sendiri. Jemaat dapat memenuhi tujuan kekal Allah hanya dengan kesatuan dengan pikiran Allah sebagaimana dinyatakan di dalam Anak-Nya. Ini tidaklah cukup hanya untuk merenungkan satu ciri kesatuan ilahi sebagaimana diilustrasikan oleh satu jalan tunggal dan sungai yang memberikan air kehidupan, yang mengalir di tengah-tengah jalan kota itu; kita harus bertanya pada diri sendiri, apa implikasinya bagi kita di bumi ini. Tentunya implikasinya adalah bahwa di antara umat Allah, harus ada kesatuan Roh yang mendasar, yang memungkinkan pelayanan hidup yang mengalir dengan bebas. Tidak perlu memaksakan keseragaman bahasa atau prosedur. Bahkan ketika ini ada dalam hal-hal lahiriah, masih bisa ada ketegangan roh yang dalam dan hati yang terbagi-bagi. Dan bahkan di mana orang-orang berbeda dalam hal-hal yang tidak penting, masih bisa ada kesatuan persekutuan yang sangat penting itu di dalam Kristus. Persatuan inilah yang penting bagi aliran Roh.

Iblis sendiri menekankan hal ini dengan gerakan strategisnya yang terus-menerus melawan kuasa dan nilai pelayanan apa pun untuk Kristus dengan memperkenalkan perpecahan dan berusaha mengabadikannya. Ia tidak keberatan berbicara tentang kesatuan; dalam beberapa cara, ia tidak begitu keberatan dengan persetujuan doktrinal yang bersifat eksternal; tetapi ia ditetapkan secara positif dan terus-menerus terhadap kesatuan terpadu yang mendalam, sebab ia tahu dampak kuat dari kesaksian semacam itu. Jadi gambar sungai yang mengalir di tengah-tengah jalan kota adalah sebuah tantangan bagi kita semua. Ini, tentu saja, merupakan sebuah tantangan bagi Jemaat secara keseluruhan, karena kesatuan Roh tidak bersifat bagian tetapi mencakup-semua. Namun demikian, hal ini mengikuti bahwa dampak praktikal dari tantangan tersebut dirasakan di tingkat lokal dan di dalam majelis-majelis di mana kita ditemukan. Apakah sungai mengalir di sana? Jika tidak, apakah kekurangan ini disebabkan oleh perpecahan mendasar? Apakah ada banyak jalan-jalan, jalan-jalan samping dan jalan-jalan pribadi, bukannya jalan raya Raja?

Tantangan-nya akhirnya menghadapi masing-masing individu, sebab Tuhan Yesus berjanji bahwa hasil dari iman yang vital di dalam-Nya akan menjadi aliran sungai air kehidupan (Yohanes 7:38). Jadi persatuan mula-mula pastinya harus dari hubungan pribadi kita sendiri dengan Kristus. Sebelum kita mulai mempertimbangkan jemaat kita, kita perlu memeriksa hidup kita sendiri dan untuk bertanya apakah mereka yang ada di sekitar kita menemukan kesegaran dan kehidupan ketika Roh mengalir keluar dari kita kepada mereka. Ini tidak cukup hanya untuk bermeditasi pada keindahan jalan kota emas dengan sungai sejernih kristal-nya jika kita memikirkannya hanya dalam hal prospek masa depan dan bukan dalam pemenuhan masa kini. Jadi, sementara kita dengan penuh syukur menikmati previsi Yohanes tentang kemuliaan kekal, kita sebaiknya bertanya apa artinya bagi kita di sini dan sekarang.

Yohanes bisa mengatakan: “Ia menunjukkan kepadaku …”. Ia melaporkan apa yang ia telah lihat sendiri. Tetapi apakah tidak relevan bahwa masing-masing dari kita, dalam membaca dan mendengar Firman, harus dapat dengan penuh syukur menegaskan: “Ia menunjukkan kepadaku …”. Sama seperti Yohanes yang hampir tidak bisa membayangkan keajaiban sorga ini jika Tuhan tidak pertama-tama mengatakan kepadanya: “Mari, dan Aku akan menunjukkan kepadamu …”, jadi kita tidak dapat menghargai makna rohani dari masalah ini sampai Tuhan sendiri telah mengungkapkannya kepada kita. Kita harus bisa mengatakan dengan rendah hati, “Ia menunjukkan kepadaku …”. Tetapi jika ini benar, jika kita benar-benar telah menerima wahyu, maka apa yang telah kita lihat seharusnya memiliki efek praktis yang luar biasa pada kehidupan kita. Bagaimana saya bisa dengan benar mengklaim telah melihat kebenaran yang luar biasa dari persekutuan rohani jika ini tidak menemukan ekspresi praktikalnya dalam hidup saya? Bagaimana saya dapat berbicara tentang kota yang kudus, pengantin sorgawi Anak Domba, tanpa hasil kerja dari prinsip-prinsipnya di dalam diri-ku sekarang? Tentunya ujian tentang apakah kita telah melihat dapat ditemukan dalam apa yang terjadi pada kita dan di dalam kita. Saya tidak percaya bahwa akan ada pertunjukan ilahi yang efektif tanpa ada hasil. Tentunya ini paling berbahaya untuk mengumpulkan pengajaran tentang kebenaran kudus, bahkan mungkin untuk menyebarkan ajaran itu, sementara sepanjang waktu ada paling minimal pengerjaan dari mereka dalam pengalaman kita. Ajaran itu dapat melakukan lebih banyak kerugian daripada kebaikan, karena itu dapat menipu orang untuk membayangkan bahwa mereka ada dalam kebaikan hal-hal hanya karena mereka diberi tahu tentang mereka. Kita harus selalu menguji asumsi pengetahuan kita dengan efek praktikalnya yang dapat ditunjukkan dihasilkan.

Dalam pasal terakhir dari Alkitab, seperti dalam pasal pertama, penekanan gandanya adalah pada Roh dan kehidupan. Dalam Kejadian, kita diberitahu bahwa indikasi pertama dari kegiatan ilahi adalah melayang-layang di atas dari Roh Allah, dan kemudian mengikuti, ungkapan kehidupan yang selalu baru dan selalu indah. Ketika kita sampai pada pasal terakhir dari Wahyu, kita menemukan Roh dengan pengantin perempuan memanggil: “… dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” Jadi sekali lagi kita memiliki Roh dan kehidupan. Dalam arti tertentu ini adalah kunci untuk seluruh Alkitab. Di dalam Perjanjian Lama, Roh dilambangkan dalam banyak cara, sebagai air, api, minyak, dan sebagainya, tetapi selalu terkait dalam beberapa cara dengan masalah kehidupan. Di dalam Perjanjian Baru, ini jauh lebih ditekankan. Kitab terakhir, kitab penyempurnaan, memiliki Roh dan hidup sebagai dua fitur yang paling menonjol. Ini dibuka dengan pernyataan Yohanes bahwa ia berada dalam Roh pada hari Tuhan, dan kemudian tujuh kali lipat dalam surat-surat kepada jemaat-jemaat, panggilannya adalah kepada mereka yang akan mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat. Berlari tepat di samping adalah pertanyaan tentang kehidupan. Dalam Roh, Yohanes melihat dan mendengar Yang Hidup, Tuhan Yesus, dalam hal hidup kebangkitan. Ketika tujuh-kali kepenuhan Roh disebut, kita menyadari bahwa pelita api-Nya diarahkan kepada jemaat-jemaat dalam pencarian untuk satu pengalaman tertinggi yang seharusnya menjadi milik mereka, bahkan kepenuhan hidup. Ujian sesungguhnya tentang apakah orang-orang percaya itu bergerak menuju tujuan Jemaat adalah, Apakah orang-orang bertemu Kristus melalui saudara? Apakah kebajikan mengalir keluar kepada orang lain, seperti yang terjadi dari pakaian Tuhan kita? Panggilan kita di bumi ini adalah untuk menjadi saksi hidup-Nya dan untuk melayani hidup itu kepada orang lain di sekitar kita. Secara individu dan di gereja-gereja kita, kita dimaksudkan untuk menjadi pusat kehidupan.

Salah satu jemaat diberi tahu: “… engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati …” (Wahyu 3:1-3). Nama tidak ada gunanya bagi Tuhan. Apakah namanya terdengar bagus, apakah itu bersifat Alkitab, apakah itu memiliki tradisi yang panjang; semua ini tidak menarik bagi Tuhan dan tidak memiliki nilai dalam pandangan-Nya kecuali hidup dan kasih-Nya sendiri mengalir melalui kita. Dan tidak ada keraguan bahwa hidup ini mengekspresikan dirinya sendiri dalam kesatuan. Jika Roh Kudus benar-benar memiliki jalan-Nya di antara umat Tuhan, mereka tidak dapat dibagi. Dalam kekekalan, akan ada jalan kota emas. Bahkan sekarang, semoga kasih-Nya begitu menang di dalam kita, umat-Nya, sehingga sungai air kehidupan bebas mengalir membawa hidup kepada jiwa-jiwa yang haus di sekitar kita!


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.