Austin-Sparks.net

Karena nama-Nya

oleh T. Austin-Sparks

Pertama kali diterbitkan di dalam majalah "A Witness and A Testimony" Nop-Des 1951, Jilid 29-6. Judul asli: "For the Sake of the Name". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)

“Karena nama-Nya mereka telah berangkat” (3 Yohanes 7).

“… dunia membenci kamu … mereka juga akan menganiaya kamu … Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 15:19-21).

Bagian dalam Injil itu menyoroti pernyataan dalam surat itu, dan menunjukkan bahwa itu adalah tidak mengenal Dia yang menyandang Nama itu yang menyebabkan penganiayaan terhadap hamba-hamba yang berusaha untuk menghormati Nama itu.

Signifikansi dari nama-Nya

Kita tidak menyadari betapa sedikitnya arti nama Yesus itu bagi dunia, dan khususnya bagi orang Yahudi, pada masa itu. Itu adalah nama yang sangat umum, dan bagi orang-orang pada masa itu, hanya ada sedikit perbedaan antara satu Yesus dan Yesus yang lain. Betapa berbedanya ini dengan kita! Alangkah mengejutkannya bagi kita jika pada hari ini, seorang ayah menamai putranya Yesus! Kita akan mengatakan bahwa itu adalah penghujatan! Mengapa demikian? Nah, betapa banyak yang telah datang dikenal sebagai yang termasuk dalam nama itu! Betapa banyaknya yang diwakili oleh nama itu bagi begitu banyak orang di dunia ini! Hasilnya adalah bahwa kita hampir tidak bisa memikirkan orang lain siapa pun yang diizinkan untuk memiliki nama itu. Kita sekarang mencadangkan nama itu untuk Satu saja; tetapi hal ini tidak demikian pada masa itu. Apa yang saudara dan saya tahu, yang dijangkau oleh nama itu harus dibuat diketahui, harus ditetapkan. Itu sepenuhnya tidak diketahui dan tidak dikenal, dan itu adalah seluruh pekerjaan Jemaat untuk membuat menjadi diketahui apa yang ada di balik nama yang umum yang dipegang oleh seorang yang tidak umum; sebab tidak ada yang umum tentang Satu yang disebut dengan nama itu pada waktu itu.

Sekarang, Kekristenan secara keseluruhan, isinya yang lengkap, telah dikumpulkan dalam kalimat-kalimat kecil. Di zaman Perjanjian Baru, hal ini seperti itu. Misalnya, nama Kristen itu sendiri adalah hal yang paling komprehensif. Itu terjadi juga bahwa mereka merangkum seluruh Kekristenan dalam sebuah kalimat kecil, “Jalan Tuhan”. Paulus pergi dalam perjalanannya ke Damsyik dengan kuasa dari Imam Besar untuk menangkap siapa pun yang ia temukan sebagai dari “Jalan Tuhan” (Kisah Para Rasul 9:2). Ia berkata, “Aku telah menganiaya Jalan Tuhan” (Kisah Para Rasul 22:4), dan sekali lagi, “Aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu jalan yang mereka sebut sekte” (Kisah Para Rasul 24:14). Di Efesus “timbul huru hara besar mengenai Jalan Tuhan” (Kisah Para Rasul 19:23). Jadi saudara lihat, semua dari Kekristenan pada masa itu dikumpulkan ke dalam kata-kata ini, “Jalan Tuhan.”

Dengan cara yang persis sama, Kekristenan menjadi dikumpulkan ke dalam kata-kata ini, “nama-Nya.” Itu adalah agama Kristen. “Nama-Nya” membawa segalanya yang dimaksudkan oleh Kekristenan bagi dunia pada masa itu. Oleh karena itu, ini menjadi keprihatinan orang-orang Kristen itu sendiri untuk menjadikan diketahui kepenuhan dari arti nama-Nya, ketidak-umum-an yang ada di baliknya. Ya, itu adalah keprihatinan yang besar – bukan untuk membuat suatu nama, bukan untuk mencari sebuah nama, bukan untuk memiliki sebuah nama, tetapi untuk membuat nama-Nya dikenal. Ini, kami temukan, mereka lakukan dalam beberapa cara.

Kesaksian kepada nama-Nya

Pertama, melalui kesaksian. Di mana-mana, mereka bersaksi dalam nama –Nya dan kepada nama Yesus. Itu adalah pelayanan universal dan spontan Jemaat. Begitu banyak yang telah mereka temukan di dalam Dia yang menyandang Nama itu, begitu banyak Nama itu telah menjadi bagi mereka, sehingga bagi mereka itu adalah nama yang eksklusif, nama yang unik, tidak peduli berapa banyak orang lain yang dipanggil dengan nama itu. Bagi mereka, sesungguhnya hanya ada Satu yang memiliki nama itu, dan sedemikian rupanya sehingga, di mana-mana mereka memberikan kesaksian kepada Dia yang menyandang nama itu. Mereka berkata, “Yesus ini”; “Yesus dari Nazaret.” Bagaimana sesuatu yang sangat umum dan terkenal menjadi diinvestasikan dengan sesuatu yang melampaui semua pengetahuan, melampaui semua yang biasa! Bagaimana sorga menjadi terikat dengan sesuatu yang di antara manusia tidak ada yang khusus! – dan mereka telah melihat perkiraan sorga akan Nama itu. Ya, sesungguhnya bagi mereka, mereka dapat mengatakan ‘Alangkah manisnya nama Yesus!’ Segala sesuatu bagi mereka dalam hati dan hidup mereka sendiri terikat dengan Nama itu, dan dengan demikian, nama itu keluar dalam kesaksian di mana-mana.

Itu adalah pernyataan yang sederhana, tetapi apa yang saya benar-benar lemparkan melalui tantangan bagi hati kita sendiri adalah ini, bahwa semua pelayanan yang nyata adalah kesaksian, dan tidak ada kelas khusus yang ditetapkan untuk itu. Pelayanan muncul dari berharganya Nama itu, nilai yang telah dibawa ke dalam hati dan hidup kita sendiri di dalam nama Yesus. Jika saudara dan saya tidak memiliki pelayanan dan tidak memiliki kesaksian, maka itu karena Ia tidak seberharganya bagi kita seperti yang seharusnya. Ini tidak bisa sebaliknya. Oh, tidak, ini bukanlah kewajiban hukum, sesuatu yang diletakkan pada kita yang harus kita lakukan – bahwa jika kita adalah orang Kristen, kita harus mengakui Yesus, kita harus berbicara tentang Dia, kita harus memberi tahu orang, dan akan memiliki waktu yang buruk jika kita gagal untuk melakukan itu. Itu adalah alam hal-hal yang salah. Dengan mereka, penyatuan hati dengan-Nya itu sendiri dan berharganya nama-Nya menghasilkan kesaksian. Itu spontan.

Menderita untuk nama-Nya

Kemudian ini mengekspresikan dirinya dalam penderitaan. Dikatakan tentang Paulus pada pertobatannya, “Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (Kisah Para Rasul 9:16). Sekali lagi, dari para murid dicatat bahwa mereka bersukacita “karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” (Kisah Para Rasul 5:41). Saudara mungkin mengetahui sesuatu tentang penderitaan oleh karena nama-Nya, tetapi di sinilah bahwa hubungan-hati kita kepada Tuhan benar-benar diuji. Ada banyak cara di mana kita dapat menderita, tetapi kita harus menderita jika nama itu ada pada kita. Apakah kita menerima atau melalaikan penderitaan itu mungkin adalah masalah lain. Apakah kita akan menyerah atau tidak di bawah tekanan, dan berkompromi dan menurunkan standar kita, akan membuktikan seberapa besar Nama itu bagi kita, setelah semuanya. Oleh karena nama-Nya, mereka telah berangkat dalam kesaksian. Oleh karena nama-Nya, mereka telah berangkat dalam penderitaan. Itu datang kepada mereka; mereka dipanggil untuk menderita karena nama-Nya.

Hidup Sesuai dengan nama-Nya

Kemudian nama-Nya menentukan cara hidup mereka. Sungguh suatu kekuatan bagi mereka bahwa nama-Nya berartikan begitu banyak, sungguh suatu perlindungan yang luar biasa, sungguh suatu inspirasi yang luar biasa! Ini berada di belakang cara hidup mereka, karakter mereka, perilaku mereka. Saya pikir kita sering perlu diperiksa di sini. Saudara lihat, karakter kita itu sendiri, sikap kita, perilaku kita, segala sesuatu tentang kita, dapat menghormati atau menghina Nama itu. Ini bukanlah tingkat yang terlalu rendah untuk berbicara. Kita harus berjaga, sebab selalu ada mereka yang, diilhami oleh pencemar besar yang tujuan utamanya adalah untuk menghina Tuhan kita, mencemarkan nama baik-Nya dengan segala cara yang mungkin. Iblis selalu memprovokasi orang-orang untuk memperhatikan mereka yang menanggung nama-Nya dan untuk segera datang pada apa pun yang mereka nilai tidak sesuai dengan nama-Nya. Ini dapat menyentuh kita dengan cara yang tak terhitung jumlahnya dan pada titik yang tak terhitung jumlahnya. Untuk menjadi jorok, tak terurus, ceroboh, dalam perilaku kita, pembicaraan kita, pakaian kita, kelakuan kita di hadapan orang-orang, semua ini menyentuh nama-Nya. Ada begitu banyak hal yang memberi tahu kita bahwa kita harus menyerahkan diri kita untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah (2 Korintus 4:2). Kita tidak boleh memerintahkan perilaku kita semata-mata dalam terang apa yang kita anggap baik-baik saja dan tidak menyakitkan, tetapi dalam terang apa yang dunia ketika melihat mungkin katakan tentang hal itu, dan dalam terang bagaimana orang lain dapat menafsirkan apa yang kita lakukan. Ini adalah nama-Nya yang terlibat.

Saya mengatakan bahwa ini adalah hal yang sangat menguatkan dan melindungi. Ini juga merupakan hal objektif yang dapat membawa kita keluar dari diri kita sendiri. Kita mungkin mengalami saat-saat buruk kita secara rohani dan turun dengan sangat buruk di bawah cobaan – itu mungkin secara fisik, itu mungkin tergantung situasi, itu mungkin merupakan serangan langsung oleh iblis sendiri; tetapi kemudian seberapa sering kita telah memegang tangan kita dan berkata, ‘Lihat di sini, sekarang, jangan lupa nama Tuhan! Orang lain sedang memperhatikan, mereka mencatat. Ini adalah nama Tuhan yang dipertaruhkan. Tenangkan diri-mu, betapapun buruknya perasaan-mu; urapi wajahmu, tunjukkan di depan orang-orang seolah-olah ini adalah sebaliknya.’ Kita harus menyingkirkan unsur rasa mengasihani diri sendiri itu, penarikan perhatian kepada diri kita sendiri itu. Ada kalanya saat ketika karena nama-Nya, kita harus pergi di hadapan orang-orang dengan wajah kita yang diurapi sementara hati kita hancur. Kalau tidak, orang lain mungkin akan putus asa, mungkin akan bersedih hati, mungkin menemukan sesuatu di dalam diri kita yang mereka cari untuk mendukung beberapa keraguan mereka; dan kita tidak boleh memberi makan hal semacam itu. Allah membantu kita, ini tidak mudah; tetapi itu adalah menderita di dalam batin karena nama-Nya. Berapa banyak tragedi yang ada di latar belakang kehidupan yang tidak diketahui orang lain selain Tuhan. Wajah dijaga tetap kuat karena nama-Nya, oleh kasih karunia Allah. Ini harus seperti itu.

Kecemburuan untuk nama-Nya

Saya sedang mencoba untuk menekankan satu hal, yaitu bahwa “Karena nama-Nya mereka telah berangkat”; dan bagi mereka itu berarti bahwa di hadapan manusia mereka akan menjadi pujian bagi Tuhan mereka. Mereka akan hidup dan bertingkah laku sedemikian rupanya sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menghina nama-Nya karena mereka. Mereka akan menderita banyak penderitaan karena nama-Nya, tetapi dalam kelemah-lembutan mereka, ketidak-tersinggungan mereka, dalam ketidak-egoisan mereka di bawah penderitaan, ya, dalam sukacita kemenangan Tuhan mereka bahkan ketika hati mereka sangat berat, mereka akan selalu pertama-tama mempertimbangkan nama-Nya; bukan, ‘Seberapa buruk perasaan-ku, seberapa keras nasib-ku’, tetapi, ‘Aku harus berhati-hati oleh karena nama-Nya.’ Itulah pesannya.

Itu adalah sebuah upaya – seperti saya pikir Tuhan telah meletakkannya di dalam hati saya – untuk membawa kita dengan cara baru ke tempat di mana nama dengan-nya kita dipanggil, dipandang sebagai nama yang mulia, nama yang menang, nama yang indah. Saya bisa mengatakan lebih banyak lagi dari Perjanjian Baru tentang nama-Nya. Itu adalah nama otoritas tertinggi, dan jadi mereka telah berangkat untuk mengumumkan otoritasnya. Proklamasi mereka adalah, Yesus Kristus adalah Tuhan! Mereka tidak menggunakan nama-Nya hanya sebagai sebuah aji atau jimat untuk melakukan sesuatu, atau untuk kemuliaan mereka sendiri. Tidak, ini adalah melalui iman di dalam nama-Nya bahwa Roh Kudus mengerjakan hal-hal yang luar biasa untuk kemuliaan Dia yang memiliki nama itu. Itu adalah nama otoritas; itu adalah nama kecantikan yang tiada taranya; dan oh, lebih banyak lagi!


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.