Austin-Sparks.net

Kristus Hidup Kita (1940)

oleh T. Austin-Sparks

Pertama kali diterbitkan di dalam majalah "A Witness and A Testimony" Sep-Okt 1940, Jilid 18-5. Judul asli: "Christ Our Life (1940)". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)

“Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” (Kolose 3:4).

Jika kita bertanya apa esensi dan inti itu sendiri dari Kekristenan dan kehidupan Kristen, jawabannya adalah bahwa Allah telah mempersatukan dan memusatkan segala sesuatu di dalam pribadi Anak-Nya, Yesus Kristus. Ini berarti bahwa Kekristenan bukanlah sejumlah hal-hal sebagai hal-hal dalam dirinya sendiri, seperti kepercayaan-kepercayaan, ajaran-ajaran, akaid, perbuatan-perbuatan, bentuk-bentuk, upacara-upacara, peraturan-peraturan, atau kebajikan-kebajikan. Ini bukanlah keselamatan, regenerasi, pengudusan, kekuasaan, hidup, sukacita, kedamaian, dll, sebagai sesuatu; ini hanyalah diri-Nya sendiri, dan Dia sebagai yang berdiam di dalam mereka yang telah menerima Dia sebagai Siapa dan Apa Dia itu. Ia adalah jumlah dari semua yang diperlukan untuk kemuliaan dan kepuasan Allah, yang untuknya kita diciptakan. Tidak ada yang bisa dimiliki atau dikenal sebagai “itu”, selain dari Pribadi. Jika kita memiliki Dia dan hidup oleh Dia, kita memiliki segala sesuatu.

Kegagalan untuk menyadari fakta inklusif ini dengan cara yang hidup adalah alasan untuk setiap jenis kelemahan, kegagalan, dan kekecewaan, baik dalam kehidupan maupun dalam pelayanan. Kita mungkin menginginkan atau berusaha mengejar sesuatu “itu”, apa pun sesuatu “itu”, tetapi Allah tidak akan pernah meninggalkan posisi-Nya dalam kaitannya dengan Anak-Nya. Banyak orang yang telah berjuang dengan intensitas jiwa yang sedemikian rupanya, mengejar sesuatu “itu” sehingga menjadi psikis atau gaib, dan mereka telah mendapatkan sesuatu “itu”; tetapi itu bukanlah dari Allah, dan akhirnya akan membuktikannya bahwa hal itu adalah demikian.

Adam, pada awalnya, terjerat dalam tipu daya dengan cara ini sendiri. Ia memiliki segala sesuatu di dalam Allah dan dengan menetap di dalam Allah, suatu kehidupan kebergantungan dan kepercayaan, “segala sesuatu” itu seharusnya dinikmati dan terus diperbesar. Tetapi sarannya datang bahwa ia dapat memiliki kedudukan itu dan mendapatkan sumber segala sesuatu di dalam dirinya sendiri dan “menjadi seperti Allah.” Terhadap gagasan ini, ia jatuh; dan sementara ia mendapatkan (?) objek langsung itu dari “mengetahui tentang yang baik dan yang jahat”, keuntungannya telah menjadi kutukannya sejak saat itu, dan kehilangan yang tak terhitung telah menyertainya. “Adam yang akhir” (Anak Allah), untuk memperbaiki masalah ini bagi suatu umat “orang percaya” baru, menerima kehidupan yang mutlak bergantung kepada Allah secara sukarela, mengakui bahwa “dalam diri-Nya sendiri” (secara harfiahnya: “keluar dari”) Ia tidak dapat melakukan apa pun. Ia membuktikan bahwa yang demikian adalah posisi dan hidup kekuatan, kedamaian, sukacita, dan kekuasaan Ilahi. Dengan demikian Ia ‘menghancurkan pekerjaan Iblis’, dan oleh hidup-Nya yang bergantung dan percaya kepada-Nya, menerima segala sesuatu sebagai warisan-Nya. Ini tidak ada di dalam kita sekarang untuk menjalani kehidupan seperti itu, oleh karena itu, kita tidak dapat dari diri kita sendiri menerima warisan dari “segala sesuatu.” Tetapi ‘Kristus di dalam kita, adalah pengharapan akan kemuliaan’ (Kolose 1:27), dan hidup yang sepenuhnya bergantung kepada-Nya berarti kemenangan, kemampuan, kepenuhan. Tetapi ini akan selalu menjadi diri-Nya sendiri, dan kita akan dijaga ketat kepada ini, selalu mengetahui kelemahan dan kesia-siaan kita sendiri.

Ini adalah karena Allah telah menetapkan ini sebagai hukum hidup yang tidak dapat diubah, bahwa Ia akan menyebabkan segala sesuatu yang lain secara nyata untuk gagal, sejauh mana kepuasan dan kepenuhan kekal bersangkutan.

Semakin kita bergerak menuju akhir, akan ada pemotongan semakin banyak akan hal-hal, dan penyelesaian segala sesuatu menjadi suatu masalah tentang DIRINYA SENDIRI.

Kita tidak menyadari betapa banyaknya, betapa dalamnya, betapa halusnya hal-hal baik dapat mengambil tempat diri-Nya sendiri sampai mereka telah disingkirkan. Biarkan pekerjaan kita, minat kita, pertemuan-pertemuan kita, pelayanan kita, kekuatan kita untuk melakukan, kesempatan kita untuk melakukan, ya, segala sesuatunya kita yang di luar, diambil pergi, sehingga kita menjadi sendirian dan tidak berdaya; kemudian akan datang ujian tertinggi tentang siapa diri Tuhan sendiri itu bagi kita. Bukankah ini adalah tren dari segalanya pada hari ini? Semakin banyak, kita memiliki hal-hal lahiriah dibawa ke dalam keterbatasan – hal-hal, manusia, gerakan, tempat, kegiatan! Anti-Kristus ada di cakrawala dan akan mewakili kepenuhan dan kemampuan, kekayaan dan kekuatan oleh energi-diri (yang sumbernya adalah dari Iblis), dan secara diam-diam atau secara terbuka, banyak orang akan membuat perbandingan antara kepenuhan yang ia tawarkan dan wakili, dan kekecilan dan kelemahan yang tampak dari apa yang adalah dari Kristus. Banyak hati yang akan terpancing, banyak yang akan pingsan. Ujian tertinggi bagi semua orang akan ada di sini – jika ini belum terjadi. Anti-Kristus mula-mula mungkin akan mengejutkan dengan pameran akan kekuasaan dan terornya, dan kemudian menghanyutkan dengan apa yang ia tawarkan. Dalam penderitaan dan cobaan yang akan berarti ini, seluruh masalahnya akan tergantung pada apa Tuhan itu bagi kita. Allah harus menekankan masalah ini, sebab dalam peraturan dunia baru-Nya yang akan segera terjadi pada saat seperti itu, satu-satunya ciri yang mencakupi segalanya adalah bahwa “Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu”, dan ini bukan sebagai sebuah ajaran atau sebagai sesuatu yang hanyalah objektif, tetapi suatu kenyataan yang ditempa tepat ke dalam pribadi umat-Nya itu sendiri.

Kita harus menguji sifat rangsangan kita. Apakah itu pekerjaan, usaha, kegiatan, gerakan, gereja, masyarakat, ajaran, orang-orang, misi, dll, atau apakah Kristus Sendiri yang merupakan hidup dan kepuasan kita? Pelajaran utama kita adalah untuk hidup Kristus. Apakah kita membutuhkan makanan dan kepuasan? Ia berkata, “Akulah roti kehidupan.” Untuk setiap kebutuhan, jawaban-Nya adalah Aku-lah itu; tidak, Aku berikan itu.

Jadi, Paulus menghubungkan kedua hal itu bersama – penyataan diri Kristus dengan keseluruhan Kristus sebagai hidup kita: “Ketika Kristus – yang adalah hidup kita – akan dinyatakan …” Marilah kita “mendengarkan apa yang dikatakan Roh”; marilah kita melihat apa yang dikatakan oleh tindakan kedaulatan Allah; marilah kita melihat pada fondasi kita. Apakah ini hanya Diri Tuhan Sendiri yang ada di sebelum dan di bawah dan di atas segala sesuatu?

Apakah kita puas dengan diri-Nya, terlepas dari apa yang Ia lakukan atau mampu lakukan untuk kita?

Ini adalah dari Dia yang menjadi segala-sesuatu bagi kita bahwa setiap nilai dalam kehidupan dan pelayanan akan terbit, dan jika Ia adalah demikian, maka nilai-nilainya akan spontan, buahnya hanya akan ada di sana tanpa usaha atau mesin-mesin.


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.